• Latest Stories

      What is new?

    • Comments

      What They says?

    ,

    Kompleks Uma Lengge yang berlokasi di desa Maria Utara Wawo Bima sudah sangat dikenal. Para wisatawan domestic maupun mancanegara sering berkunjung ke areal lebih kurang satu hektar tempat bangunan rumah tradisional Bima ini berdiri mengawal perubahan zaman. 

    Uma Lengge dan Jompa yang ada di lokasi ini mengundang perhatian setiap orang untuk mengunjunginya. Pada masa lalu, padi disimpan di Uma Lengge atau Uma Jompa untuk kebutuhan satu tahun.

    Penempatannya yang terpisah dengan rumah tinggal penduduk konon dimaksudkan untuk mencegah efek domino yang merugikan apabila terjadi bencana kebakaran. Dengan demikian, apabila rumah tempat tinggal penduduk terbakar, maka padi yang disimpan di dalam Uma Lengge atau Uma Jompa tidak akan ikut terbakar, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itulah, kompleks Uma Lengge di Desa Maria dibangun agak jauh dari pemukiman penduduk.

    Ada beberapa atraksi unik yang dapat anda saksikan di kompleks Uma Lengge. Atraksi ini telah menyatu dengan kompleks ini disamping upacara Adat Ampa Fare yang rutin dilaksanakan seusai panen.Berikut beberapa atraksi kesenian unik di kompleks Lengge Wawo yang biasa disuguhkan untuk para wisatawan.

    Atraksi ini dikenal juga dengan Adu Kepala. Merupakan tarian tradisional masyarakat Desa Ntori kecamatan Wawo yang sudah ada sejak abad ke-15. 

    Konon pada zaman dahulu, ada dua laki-laki yang berkelahi namun tidak ada yang kalah dan yang menang. Mereka tidak mempan oleh senjata. Mereka pun mencari cara lain yaitu dengan adu kekuatan kepala (Ntumbu). Sejak saat itulah Ntumbu berkembang menjadi sebuah seni tari tradisional yang memperkaya khasanah budaya Bima.

    Prosesi ini tergolong langka dan cukup mengharukan. Secara harfiah, Weha berarti Ambil, Nggahi berarti Kata atau ucapan. Weha Nggahi berarti mengambil Kata. Tapi secara filosofis, Weha Nggahi dikandung maksud meminta ijin kepada orang tua yang dilakukan oleh seorang gadis yang ingin menikah. 

    Prosesi ini biasa dialakukan pada detik-detik terakhir menjelang prosesi Akad Nikah. Contohnya adalah yang dilakukan calon pengantin wanita bernama susanti ini kepada ayahandanya Sahlan yang berlangsung di kelurahan Sadia Kota Bima.

    Setelah semua persiapan akad nikah dirampungkan dan calon pengantin wanita sudah dirias oleh Ina Ruka( Inang Pengasuh), penghulu/petugas pencatat nikah menghadirkan ayah bunda dari calon pengantin wanita ke Uma Ruka(Rumah Mahligai tempat merias pengantin). Calon pengantin wanita duduk bersimpuh di depan ayahandanya dan mengucapkan kata-kata penuh syahdu.

    “Ama, Mboto-mboto kangampu, mada raho kasi ade labo bareka ita, kanika pu mada labo la Dahlan.“

    (Ayahanda, saya datang bersumpuh dikakimu, ijinkan saya untuk menikah dengan Dahlan.)

    Permintaan calon pengantin wanita itu kemudian dibalas oleh Sang Ayah.

    “Iora Anae, nahu ma kanika nggomi labo la Dahlan.”

    (Kalau begitu keinginanmu, akan aku nikahkan engkau dengan Dahlan)

    Kemudian Calon Pengantin Wanita bersujud dan mencium tangan ayah dan bundanya. Di beberapa wilayah di Bima, prosesi ini kadang mengharukan. Tidak jarang orang-orang yang menyaksikan prosesi ini menitikan air mata keharuan. Weha Nggahi tentu bukan sekedar prosesi meminta ijin dan restu pada orang tua untuk menikah, tapi memiliki makna yang luas, bahwa pernikahan itu adalah perjalanan panjang penuh liku dan membutuhkan persiapan mental bagi yang melaluinya. Pernikahan itu adalah bahtera yang akan dijalani. Restu orang tua merupakan penuntun langkah bagi kedua pengantin dalam menjalani bahtera cinta dalam bingkai rumah tangga yang penuh dengan romantika kedepannya.

    Pembuatan Dodol atau yang dalam bahasa Bima disebut Kadodo telah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Bima sejak nenek moyang. Di Bima makanan ini telah secara turun temurun dibuat oleh masyarakat di kecamatan Wera.

    Meskipun pembuatan Dodol semacam ini juga banyak dibuat oleh masyarkat di wilayah lainnya, tapi dodol yang terkenal adalah Kadodo Wera. Ada satu desa di kecamatan Wera yang orang-orangnya sangat ahli membuat Kadodo yaitu di desa Nunggi. Hingga saat ini keterampilan membuat Kadodo Wera masih tetap terwarisi, bahkan menyebar ke desa-desa lainnya di Wera.

    Pada masa lalu, pembuatan Kadodo hanya dilakukan pada saat ada hajatan seperti perkawinan, khatam Al-qur’an, khitanan dan lain-lain. Pembuatan Kadodo dilakukan secara gotong royong oleh warga diiringi musik tradisional Bima seperti Biola dan Gambo, Rawa Mbojo serta atraksi Gantaong.

    Sambil menonton dan menikmati musik dan permainan itu, para pembuat Kadodo memaruk kelapa, mengumpulkan kayu bakar, menggali Rubu (semacam tungku perapian yang digali terlebih dahulu untuk dimasukan kayu-kayu bakar). Sambil berpantun dan bersyair para pembuat Kadodo mengaduk Kadodo dengan Kayu Kosambi sepanjang satu meter yang memang telah disiapkan sebagai pengaduk Kadodo.

    Menurut Halimah (58 thn), salah seorang pembuat Kadodo asal desa Nunggi bahan pembuatan Kadodo Wera untuk sebuah perayaan dibutuhkan 10 kg tepung beras ketan, 50 batang gula merah, 30 butir kelapa, gula pasir, garam, dan bawang Goreng. Untuk membuat dodol yang bermutu tinggi cukup sulit karena proses pembuatannya yang lama dan membutuhkan keahlian. 

    Dalam tahap pembuatannya, bahan-bahan dicampur bersama dalam Kuali yang besar dan dimasak dengan api sedang. Dodol yang dimasak tidak boleh dibiarkan tanpa pengawasan, karena jika dibiarkan begitu saja, maka dodol tersebut akan hangus pada bagian bawahnya dan akan membentuk kerak.

    Oleh sebab itu, dalam proses pembuatannya campuran dodol harus diaduk terus menerus untuk mendapatkan hasil yang baik. Waktu pemasakan dodol kurang lebih membutuhkan waktu 4 jam dan jika kurang dari itu, dodol yang dimasak akan kurang enak untuk dimakan. Setelah 2 jam, pada umumnya campuran dodol tersebut akan berubah warnanya menjadi cokelat pekat. Pada saat itu juga campuran dodol tersebut akan mendidih dan mengeluarkan gelembung-gelembung udara.

    Untuk selanjutnya, dodol harus diaduk agar gelembung-gelembung udara yang terbentuk tidak meluap keluar dari kuali sampai saat dodol tersebut matang dan siap untuk diangkat. Yang terakhir, dodol tersebut harus didinginkan dalam periuk yang besar. Untuk mendapatkan hasil yang baik dan rasa yang sedap, dodol harus berwarna coklat tua, berkilat dan pekat. Setelah itu, dodol tersebut bisa dipotong dan dimakan.

    Selama ini pembuatan Kadodo Wera masih bersifat tradisional terutama pada saat hajatan saja. Pemasarannya pun nyaris tidak pernah dilakukan di luar kecamatan Wera. Perlu upaya pendekatan, fasilitasi dan sentuhan pemberdayaan terhadap para pembuat Kadodo Wera agar produk warisan leluhur ini mampu menerobos pasar. Seperti Dodol Garut dan dodol-dodol lainnya di tanah air.

    Jajan Bunga dan Jajan Cincin (Pangaha bunga dan pangaha sinci : Bahasa Bima) merupakan diantara sekian jenis makanan khas daerah Bima yang secara turun temurun di lestariakan hingga saat ini. Bahan-bahan kedua jenis jajan ini sangatlah sederhana. 

    Semua orang pasti bisa membuatnya jika mengetahui bahan dan cara pembuatannya. Tetapi belum tentu rasa yang di hasilkan se-nikmat rasa yang tercipta dari tangan para pembuat (pengrajin) asli. Tangan-tangan mereka telah terbiasa dan memiliki teknik-teknik yang mungkin tak di ketahui oleh orang lain.

    Marsita salah seorang Pengusaha Jajan Bunga yang telah cukup lama menekuni usaha ini mengatakan Pangaha Bunga buatannya banyak di minati masyarakat Bima maupun luar Bima seperti Sumbawa, Mataram, Denpasar dan Jakarta. 

    Rasa pangaha buatannya sangat enak dan gurih. Namun uniknya Marsita tidak menjajakan jualannya di pasar-pasar maupun di took-toko. Alasannya, Ibu paruh baya yang dalam proses pembuatannya di bantu oleh sang suami Arrahman M. Ali, SE ini menerima banyak psanan dalam setiap harinya sehingga tidak punya waktu untuk membuat lebih banyak lagi. 

    Biasanya Masita yang merupakan Sarjana Hukum ini membuat Pangaha Bunga paling sedikit jumlah bahannya 10 kg “itu jika tidak ada pesanan, orang-orang saja yang datang langsung membeli ke rumah. Tapi bila ada pesanan ia membuat Pangaha berbentuk bunga tersebut sebanyak 20 s/d 40 kg bahan. Apalagi kalau lebaran sampai 50 kg” ceritanya. Sementara harga jajan ini per buahnya 100. Tetapi jika ada orang yang ingin jajan tersebut lebih gurih maka akan ditambahkan telur bebek dalam adonannya.
     

    Satu lagi kuliner menarik dari Bima, yaitu Mina Sarua. Mina Sarua yang telah ratusan tahun menjadi warisan budaya dari nenek moyang warga dusun Sumbawa, Desa Bontokope, Kecaman Bolo.

    Minuman ini, bermanfaat sebagai obat atau biasa disebut minuman penghangat tubuh.

    Mina Sarua bukan hanya sekedar minuman. Bahan-bahan yang terkandung di dalamnya antara lain Tape ketan dan rempah-rempah.

    Pada musim hujan (dingin) minuman ini sangat baik untuk menjaga stabilitas tubuh, karena komposisinya mengandung bahan-bahan rempah alami.

    Proses pembuatan Mina Sarua berlangsung selama dua hari. Campuran beras ketan dan ragi akan di diamkan selama satu malam. Paginya rempah-rempah antara lain Jahe, Merica dan Lada, di goreng. Lalu beras ketan yang telah menjadi tape ketan itu di campur dengan rempah yang telah di goring. Kemudian di masak bersama santan kelapa dan siap di sajikan.

    Namun Mina sarua ini rasanya tidak nikmat tanpa pelengkap yaitu TaI Mina. TaI Mina ini dibuat terpisah dan berbahan dasar kelapa parut. Kelapa tersebut diolah dengan minyak dan campuran sedikit bumbu. Cara penyajiannya, Tai Mina dicampur atau di tabur dalam Mina Sarua.

    Mina Sarua berasal dari kata Minyak Saruang, berupa minyak oles yang berfungsi sebagai obat keseleo, sakit perut, masuk angin dan beberapa manfaat lainnya, yang pertama kalinya di racik oleh orang Sumbawa.

    Setelah beberapa orang Sumbawa itu merantau ke Bima, tepatnya di Wilayah Sila, merekapun membawa minyak Saruang untuk di perkenalkan pada warga setempat. Oleh orang-orang Bima, kemudian meracik obat tersebut menjadi minuman penghangat tubuh.

    Akhirnya bahan dasar rempah minyak Saruang di padu dengan tape ketan. Karena dialeg Bima yang pada umumnya tidak kesampean, maka secara gamblang saja Minyak Saruang berubah nama menjadi Mina Sarua.

    Timbu atau Lemang juga merupakan makanan khas dari Bima-Dompu.Pada masa lalu, pembuat Timbu tersebar hampir di seluruh wilayah Bima-Dompu. Wilayah Sila merupakan sentra pembuatan Timbu. Sedangkan di Dompu, hampir merata ke sejumlah wilayah. Namun saat ini, pembuat Timbu semakin berkurang. Yang masih tetap eksis adalah para pembuat Timbu di Dompu. Jika berkunjung ke Dompu anda akan menjumpai para penjual Timbu dan Tape Ketan di pasar Dompu pada sore hingga malam hari.

    Pengananan ini terbuat dari beras ketan yang dimasak dalam seruas bambu, setelah sebelumnya digulung dengan selembar daun pisang. Gulungan daun bambu berisi tepung beras dicampur santan kelapa ini kemudian dimasukkan ke dalam seruas bambu lalu dibakar sampai matang. Timbu lebih nikmat disantap hangat-hangat. Cara mengonsumsi Timbu memang berbeda-beda dari daerah ke daerah. Khusus di Bima-Dompu, Timbu lebih nikmat disantap dengan Mina Sarua atau tape ketan. Di Sila, Timbu disantap dengan Mina Sarua sedangkan di Dompu disuguhkan dengan Tape Ketan.

    Diperlukan waktu sekitar dua sampai dua setengah jam untuk memasak beras ketan dalam bambu itu dengan api yang sedang, sebelum dibakar dengan tungku khusus yang terbuat dari besi atau kayu yang keras. Pertama –pertama menyediakan beras ketan yang sudah direndam selam lima sampai enam jam dengan menggunakan air bersih, setelah beras direndam, kemudian dikeringkan hingga airnya terkuras habis. Setelah itu, beras yang sudah kering tersebut siap dimasukkan kedalam potongan bambu. Sebelum beras dimasukkan kedalam bambu, harus dipastikan bambu sudah tercuci bersih dengan air bersih. Barulah beras dimasukkan kedalam bambu tua yang berukuran sedang.

    Sebelum memasukkan beras, bambu tersebut dilapisi dengan daun pisang muda yang sudah bersih. Proses terakhir adalah dengan memasukkan santan dengan campuran garam secukupnya. Proses memasak Timbu tersebut dilakukan dengan lebih dahulu menyiapkan tungku yang berbentuk panjang segi empat dengan ukuran sesuai dengan kebutuhan. Memasak Timbu tidak seperti membakar ubi kedalam bara api yang sedang berkobar. Cukup dengan menyangai dengan api yang sedang. selama pembakaran diperlukan beberapa tahap untuk mengalih atau memutar bambu tersebut dengan tujuan supaya beras ketan masak dengan sempurna dengan waktu lebih kurang dua jam.(*alan)

    M. Hilir Ismail lahir di Bima, 10 Nopember 1943, meraih sarjana sejarah pada Universitas Indonesia tahun 1975. sejak usia muda Hilir telah mencurahkan perhatian dan pengabdian pada bidang sejarah dan budaya Mbojo. Sebagai seorang sejarahwan dan budayawan Mbojo Hilir telah banyak menuangkan ide dan pemikirannya baik dalam bentuk malalah maupun buku-buku sejarah dan seni budaya Mbojo.

    M. Hilir Ismail adalah budayawan Bima yang terkenal akan dedikasi, totalitas dan keberaniannya dalam menggiatkan dan melestarikan budaya Bima.

    Beliau mendirikan Sanggar Seni Paju Monca pada tahun 1984 di mana anak-anak dari usia taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas belajar dan berlatih menari dan seni musik selama dua kali seminggu. Dengan setia Hilir mengawal dan membimbing anak-anak asuhnya berpacu mengembangkan bakat seni tari dan seni musik. Banyak dari anak-anak didiknya yang mendapatkan gelar sarjana tari dan sekarang sudah memiliki sanggar dan murid sendiri.

    Bersama istrinya, Linda Yulianti, yang merupakan guru kesenian dan praktisi tari, Hilir menciptakan karya tari. Pasangan ini seakan saling melengkapi satu sama lain, Hilir memberikan ide dan Linda mewujudkannya dalam bentuk tarian. Salah satu karya mereka, Suba Monca, yang memiliki arti pasukan istana, adalah tari perang yang menggambarkan kisah heroik dan sempat menjadi popular serta kerap kali ditayangkan oleh TVRI pada tahun 1990an.

    Kepedulian pria yang lahir di Desa Nata, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima akan seni tradisi dan budaya Bima tak perlu diragukan lagi. Beliau sama sekali tidak keberatan harus berkorban materi untuk membiayai akomodasi dan transportasi anak asuh dari sanggarnya dari rumah ke tempat pementasan ketika menghadiri pentas di luar daerah karena bantuan dana dari pemerintah daerah relatif terbatas.

    Bahkan ketika memenuhi undangan Pemerintah Kota Bima pun, Hilir tetap berkorban. Karena biasanya selain tidak disediakan makan malam di tempat pementasan, sehabis pentas mobil jemputan pun sering tak kunjung tiba sehingga selain harus membelikan makan malam untuk anak asuhnya, Hilir pun harus menyewa kereta kuda untuk mengantar anak asuhnya pulang.

    Tantangan terbesar yang pernah dihadapi oleh Mantan Ketua Harian Istana Kesultanan Bima ini mungkin ketika beliau dipercaya merintis berdirinya Museum Asi Mbojo. Gedung bekas kediaman sultan dari Kesultanan Bima yang sedianya akan dijadikan museum tersebut sudah 10 tahun lebih tidak ditempati. Seluruh ruangannya berdebu dan menjadi sarang laba-laba. Ternak sapi dan kambing pun berkeliaran di halaman yang dipenuhi oleh sampah dan semak belukar. Tak hanya itu saja, benda-benda koleksi ataupun lemari pajang untuk memajang benda koleksi pun tak ada.

    Kondisi ini tidak menyurutkan Hilir. Beliau merogoh kantongnya untuk membayar orang untuk membersihkan ruang dalam gedung dan halaman. Karena hanya sendiri tanpa karyawan, Hilir pun bertindak sebagai juru kunci sekaligus tukang sapu setiap kali masuk ruang kerjanya. Setelah masalah gedung teratasi dan lemari pajang diberikan atas hibah dari Museum Negeri NTB, masalah Hilir adalah mengenai isi lemari pajang tersebut.

    Maka beliau pun berkeliling desa-desa, meminta keringanan hati warga untuk menyumbangkan peralatan rumah tangga, alat pertanian, alat melaut, peralatan untuk acara daur hidup dan pernikahan, dan lain sebagainya. Setelah benda-benda koleksi terkumpul, Hilir pun mulai menata letak benda koleksi agar berkesinambungan dan dapat memberikan gambaran kepada para pengunjung mengenai kehidupan masyarakat Bima.

    Dedikasi dan totalitasnya dalam pelestarian seni tradisi Bima juga beliau wujudkan dalam bentuk tulisan. Peran Kesultanan Bima dalam Sejarah Nusantara adalah buku yang diterbitkan pada tahun 1998 dan beredar sampai ke Belanda, Jerman, dan Selandia Baru. Buku-buku lainnya seperti Kebangkitan Islam di Dana Mbojo (Tanah Bima) terbit pada tahun 2004 dan Menggali Pusaka Terpendam, buku bunga rampai yang berisi buah pikirannya tentang adat istiadat dan sistem nilai budaya Bima.

    Beliau meninggal pada tanggal 7 Januari 2011, jam 10.43 pagi, di Ruang Tulip, RSUD Bima, setelah dirawat selama 8 hari dengan keluhan sesak napas dan nyeri di paru-paru dan jantungnya. Beliau meninggalkan seorang istri, 10 anak dan 10 cucu. Jenazahnya dimakamkan pada hari yang sama, jam 4.30 sore di tempat kelahirannya, , dihadiri oleh St. Maryam R. Salahuddin dan bupati Bima H. Ferry Zulkarnain.

    Pada masa kejayaan kesultanan Bima, banyak sekali tarian dan kreasi seni yang diciptakan. Secara umum, tarian tradisional Bima dibagi dalam tiga kelompok, YaItu Tari klasik Istana atau yang dikenal dengan Mpa’a Asi, Tarian Rakyat atau Mpa’a Ari Mai Ba Asi, serta tarian Donggo. Tarian Donggo adalah tarian yang dikreasi oleh masyarakat Donggo dan ditujukkan untuk upacara-upacara Adat.

    Tari Sere merupakan tari klasik Istana. Tari ini diciptakan oleh Sultan Abdul Khair Sirajuddin, dimainkan oleh dua orang perwira kesultanan, bersenjatakan tombak dan perisai. Dengan wajah perkasa serta keberanian yang membara, dua perwira melompat dan berlari ke segala penjuru, berenjatakan tombak menyerang dan menangkis serangan musuh. Sebagai pancaran menghadapi musuh – musuh Dou Labo Dana (Rakyat dan Negeri).

    Para penari selalu melakukan gerakan melompat sambil berlari, oleh sebab itu tari ini di berinama mpa’a sere, yang berarti melompat sambil berlari (sere). Tari ini diiringi musik tambu (tambur). Hingga kini, Sere masih tetap eksis, dan selalu digelar/dipertunjukkan pada saat penyambutan tamu-tamu penting pada acara-acara Pemerintah maupun perayaan Hanta UA PUA. Namun generasi Sere ini perlu diupayakan Regenerasi agar tongkat estafet pelestarinnya dapat dilanjutkan. (*alan)

    Jenis atraksi kesenian ini telah berkembang pesat sejak abad ke-16. Hadrah Rebana merupakan jenis atraksi yang telah mendapat pengaruh ajaran islam. Syair lagu yang dinyanikan adalah lagu-lagu dalam bahasa Arab dan biasanya mengandung pesan-pesan rohani. 

    Dengan berbekal 3 buah Rebana dan 6 sampai 12 penari, mereka mendendangkan lagu-lagu seperti Marhaban dan lain-lain. Hadrah Rebana biasa digelar pada acara WA’A CO’I (Antar Mahar), Sunatan maupun Khataman Alqur’an. 

    Hingga saat ini Hadrah Rebana telah berkembang pesat sampai ke seluruh pelosok. Hal yang menggembirakan adalah Hadrah Rebana ini terus berkembang dan dikreasi oleh seniman di Bima. Dan banyak sekali karya-karya gerakan dan lagu-lagu yang mengiringi permainan Hadrah Rebana ini.

    Semua atraksi kesenian dan tari-tarian ini oleh Pemerintah Kota Bima selalu di gelar pada setiap perayaan hari-hari besar daerah, propinsi dan nasional bahkan untuk menyambut para tamu-tamu pemerintahan, wisatawan dan kegiatan-kegiatan ceremonial lainnya yang terpusat di Paruga Nae (tempat khusus pagelaran seni budaya dengan arsitektur khas tradisional rumah adat Bima).

    Sumber : bimakota.go.id

    Salah satu seni budaya Mbojo yang merupakan ajang hiburan masyarakat tempo dulu adalah Rawa Mbojo. Seni ini adalah salah satu media penyampaian pesan dan nasehat yang disuguhkan terutama pada malam hari saat-saat penen sambil memasukkan padi di lumbung. 

    Senandung Rawa Mbojo yang di-iringi gesekan Biola berpadu dengan syair dan pantun yang penuh petuah adalah pelepasan lelah dan pembeli semangat kepada warga yang melakukan aktifitas di tiap-tiap rumah. Sebagai selingan, dihadirkan pula seorang pawang cerita yang membawakan dongeng-dongeng yang menarik dan penuh makna kehidupan.

    Syair dan senandung Rawa Mbojo didominasi pantun khas Bima yang berisi nasehat dan petuah, kadang pula jenaka dan menggelitik. Ini adalah sebuah warisan budaya tutur yang tak ternilai unuk generasi. Dalam Rawa Mbojo terdapat beragam lirik yang dikenal dengan istilah Ntoro. Ada Ntoko Tambora, Ntoko Lopi Penge, dan Ntoko lainnya. Tiap Ntoko memiliki khas masing-masing. Misalnya Ntoko Tambora dilantunkan dalam syair dan irama yang mengambarkan kemegahan alam. Ntoko Lopi Penge mengambarkan suasana laut dan gelombang. 

    Syair dan pantun yang dilantunkan pun dikemukakan secara spontan sesuai keadaan. Itulah kelebihan dari para pelantun Rawa Mbojo. Meskipun tidak bisa membaca dan menulis, namn mereka sangan pawai melantunkannya secara spontanitas.

    Sumber : bimakota.go.id

    ,

    Museum asi Mbojo adalah bekas Istana Kerajaan / Kesultanan  Bima. Istana Bima dibangun pada tahun 1927 – 1930 dibangun oleh arsitektur dari Ambon yang bernama Mr. Obzicter Rehatta dengan perpaduan konstruksi Eropa dan Tradisional.

    Istana ini juga memiliki sebuah tiang bendera yang bermakna atau Monumental. Tiang bendera yang berbentuk tiang perahu yang sekaligus untuk memperingati pembubaran Angkatan Laut dari kerajaan Bima pada abad ke- 18 tahun 1789. 

    Istana Bima sekarang sudah lama menjadi Museum. Pada tanggal 10 Agustus 1989 dialih fungsikan menjadi Museum Asi Mbojo yang deresmikan oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat H. Warsito dan Bupati Bima H. Oemar Harun, BSc. Pada tanggal 14 Januari 1997 diadakan renovasi dan penataan benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan yang dersmikan oleh bapak bupati Bima Adi Haryanto. 

    Di Museum Asi  tersimpan koleksi benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan/Kesultanan Bima yang terbuat dari emas seperti  :  Mahkota Kerajaan ,Pakaian Adat serta barang – barang lain yang digunakan oleh Sultan/Raja  dalam kegiatan sehari-hari.  

    Di areal Museum  Asi Mbojo  ini pula terdapat sebuah sumur yang konon dulunya digunakan oleh Putri dari Khayangan sebagai tempat pemandian, sumur tersebut bernama  “Sumur Ompu Toi”. Pada tahun 2009 Museum Asi Mbojo menjadi Unit Pelaksana  Tekhnis Daerah (UPTD)  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bima.


    ,

    Secara historis orang bima atau dou mbojo dibagi dalam 2 (dua) kelompok masyarakat: Asli dan Masyarakat Pendatang. Masyarakat donggo atau dou mbojo adalah merupakan masyarakat yang paling lama mendiami Daerah Bima dibandingkan dengan suku lain mereka bermukim didaerah pemukiman di daratan tinggi yang jauh dari pesisir, memiliki bahasa adat istiadat yang berbeda dengan orang Bima atau Dou mbojo. Bahkan menurut hasil penelitian para ahli dou donggo memiliki kesamaan dengan masyrakat daerah bagian di lombok utara.

    Dou donggo mendiami lereng-lereng gunung Lambitu yang di sebut donggo ele sementara dou donggo yang mendiami lereng gunung soromandi disebut donggo ipa, mereka tinggal disuatu perkampungan dengan rumah adat disebut Lengge di kelilingi pegunugan dan pembukitan serta panorama alam yang indah dan menarik untuk di nikmati.

    Ciri khas masyarakat donggo atau Dou Donggo sering orang menilai bahwa masyarakat Donggo itu berwatak keras seperti batu karena logat bahasanya sangat keras dan unik seperti orang yang emosional dan warna kulit lelakinya agak lebih hitam, wanita bila keluar rumah membawa senjata tajam sekurang-kurangnya pisau.

    Falsafah hidup dou Donggo senang hidup dalam kondisi pegunungan dan daratan tinggi. Rumah dibangun sangat tinggi sekitar 6 sampai 7 meter dengan ukuran kecil sekitar 3×4 meter dengan maksud untuk menyimpan panas, mata pencahriannya dengan berladang dan beburu. Rasa kekeluargaan dan sukuisme serta sifat gotong royong sangat erat.

    Kondisi daerah donggo terdiri dari tanah, pegunungan yang berbatuan dan kerikil tajam, dibalik kebatuan tersimpan mata air yang suci dan jernih jauh dari polusi yang menumbuhkan jiwa masyarat donggo yang sebenarnya yaitu lugu polos dan suci walaupun berbatuan namun daerahnya sangat subur dan hasil melimpah dua.

    Adat dan Budaya
    Dibangun tempat tinggal sangat jauh beda dengan masyarakat lain, yaitu tinggi rumah sampai 7 meter dengan ukuran kecil sekitar 3×4 meter. Membangun rumah adat atau uma leme untuk ncuhi atau kepala suku dalam bentuk uma leme, berdindingkan atap seperti alang-alang dengan maksud menyimpan panas rumah ini terdiri dari empat tiang yang bersegi 8 (delapan) yang dibuta dari kayu sangga yaitu kayu yang bisa menolak bala dan bencana, rumah ini disebut juga rumah ncuhi atau uma ncuhi. Karena disinalah disimpan barang-barang sesembakan dan alat-alat kesenian.

    Ruang yang bersegi delapan itu menujukan bahwa pemimpin yang brhak menjadi ncuhi yaitu orang yang guru waru.

    Pakaian 
    • Kebesaran masyarakat donggo : hanya dapat dipakai pada upacara-upcara adat seperti: sasangi, kabusi rasa, ampa ncuhi, dapu, mpisi, kalero dan lain-lain. Bahkan dipakai di hadapan raja.
    •   Laki-laki (Masyarakat Biasa): Sangat beda dengan masyarakat lain laki-laki selembar baju hitam yang bergaris tegak lurus putih dengan berbentuk kimono yang berlubang pada lehernya dan lengan yang disebut kababu compo sendangkan bagian bawah disambung dengan rumbai-rumbai (jambo), rambut panjang diikat runcing dengan ro’o laju.
    •   Wanita (Masyarakat Biasa) : memakai ka’ba’bu adan tembe sangga dengan rambut di gulung (di sanggil) berbentuk bonggolan dan sisir yang dipake adalah dari tangan.
    Pemimpin Desa (‘Dari Ncuhi Memakai Surban Putih) :
    Warna pakaian has donggo adalah hitam berbelah biru juga ada beberapa bolangan merah dengan makna: warna hitam berarti keagungan, warna biru berarti kasisayang, warna merah berarti kejantanan, warna putih pada kimono berarti kesucian. Pakaian semacam ini adalah pakaian kebesaran atau keagungan.

    Kesenian :
    Kesenian yang disukai masyarakat donggo ipa mpisi dan kalero.
    - Mpisi adalah sentuhan kaki akibat haru dan kecewa.
    - Kalero adalah dendangan lagu ratapan.
    Mpisi semula berawal dari tanta mpisi disertai keyang. Kalero yaitu kada’da da kaporo akibat dari kematian itu. Sepulang dari penguburan mayat, dirumah duka terdengar isap tangis dan tanta mpisi serta kejang.
    Akhirnya kata-kata dan kalimat itu di jadikan landasan untuk mengenang arwah pada setiap 3 hari, 7 hari 10 hari, 44 hari da seterusya. Hari kematian itulah sebanya di masa tempo dulu bila di laksanakan doa rowa alam di tampilkan mpisi dan kalero yang di selingi dengan ntu’ba ncala yaitu permainan sakral pembelaan diri yang dimiliki, tertuanglah segala perasaan haru dan kecewa yang akhirnya berubah menjadi perasaan tenang dan damai dari ahli mayat.

    ,

    Orang Sambori, adalah komunitas masyarakat yang termasuk bagian dari suku Bima, yang berdiam di desa Sambori kabupaten Bima provinsi Nusa Tenggara Barat. Populasi orang Sambori diperkirakan sekitar 800 orang.

    Orang Sambori memiliki keunikan tersendiri baik dari sisi sejarah maupun budayanya. Salah satu dari keunikan itu adalah bahasa yang dituturkan berbeda dengan bahasa Bima. Dikatakan unik, bahwa orang Sambori sendiri disebut juga sebagai suku Bima, tetapi memiliki bahasa yang berbeda dengan bahasa Bima pada umumnya. Orang Sambori berbicara dalam bahasa Sambori, yang dikatakan merupakan dialek bahasa Bima, tapi bisa dikatakan dialek apabila terdapat persamaan 50% sampai 80%, tapi bahasa Sambori justru perbedaannya yang mencapai 80% dengan bahasa Bima. Jadi bisa dikatakan bahasa Sambori adalah bahasa yang berbeda dengan bahasa Bima.

    Bahasa Sambori menyebar di sejumlah kampung dan desa yang ada di gugusan pegunungan La Mbitu di tenggara Kota Bima seperti di desa Tarlawi, Kaboro, Teta, Kalodu, Sambori, Kadi dan Kuta. Desa-desa ini masuk dalam wilayah kecamatan pemekaran La Mbitu, kecuali desa Tarlawi yang masuk dalam wilayah kecamatan Wawo karena jaraknya sekitar 7 km dari Wawo serta desa Kalodu yang masuk wilayah kecamatan Langgudu.

    Masyarakat di desa-desa di atas dalam sejarah Bima dijuluki dengan Dou Donggo Ele. Sedangkan masyarakat dan desa yang berada di gugusan pegunungan Soromandi di sebelah barat teluk Bima disebut Dou Donggo Ipa. Masih perlu peneilitian lagi terkait dengan bahasa Dou Donggo Ipa ini. Apakah bahasa mereka juga sama dengan Bahasa Donggo Ele. Sebab dari penuturan masyarakat di sana, terdapat sedikit perbedaan antara bahasa Donggo Ele dan bahasa Donggo Ipa. Ada yang berpendapat bahasa Sambori adalah merupakan bahasa asli suku Bima, atau merupakan bahasa nenek moyang suku Bima, yang sekarang masih tersimpan dalam masyarakat Sambori.

    Orang Sambori dikelompokkan ke dalam bagian suku Bima, tetapi ada anggapan bahwa orang Sambori termasuk bagian dari suku Donggo. Tidak bisa dipastikan mana yang benar, karena belum ada penelitian lebih lanjut mengenai ini.
    Apabila dilihat dari kebiasaan, tata kehidupan, budaya dan bahasa, sepertinya orang Sambori bisa dikatakan sebagai etnis tersendiri, yang berbeda dengan etnis-etnis lain di Nusa Tenggara Barat ini. Tetapi sampai saat ini orang Sambori lebih suka menyebut diri mereka sebagai orang Bima.

    Pakaian adat masyarakat Sambori berbeda dengan pakaian adat suku Bima-Dompu pada umumnya. Masyarakat Sambori tampil berbeda, yang terlihat dalam pakaian sehari-hari. Laki-laki dewasa biasanya memakai Sambolo (ikat kapala) yang terbuat dari kain kapas tenunan dengan hiasan kotak-kotak berwarna hitam atau putih. Dipadu dengan baju Mbolo Wo’oatau, yaitu baju tanpa kerah yang terbuat dari kain katun dberwarna hitam atau putih.

    Orang Sambori memakai sarung yang disebut Tembe Me’e (sarung hitam) khas Sambori dipintal dan ditenun dari bahan kapas berwarna hitam. Dipakai dengan cara dililit pada bagian perut. Kemudian mereka memakai aksesoris Weri atau Bala (kain ikat pinggang) yang diselempangkan melingkar pada bagian perut sampai di atas paha, yang berrfungsi untuk menguatkan lilitan sarung.

    Sedangkan para perempuan dewasa, memakai baju Poro Me’e, yang terbuat dari kain katun dengan bentuk menyerupai baju Poro pada pakaian adat masyarakat Bima umumnya. Sarung memakai Tembe Me’e, dibuat agak panjang karena cara memakainya yaitu dengan cara dimasukkan secara lurus melalui kepala atau kaki. Kemudian dibiarkan lepas sampai ke betis, sekedar pelengkap mereka mengenakan Kababu,yang diselempangkan pada bahu. Untuk rambut ditata dengan membuat semacam ikatan yang dibentuk meninggi di atas kepala yang disebut Samu’u Tu’u.

    Masyarakat desa Sambori mayoritas memeluk agama Islam. Menurut mereka agama Islam masuk ke dalam masyarakat Sambori, dibawah oleh seorang ulama dari Ternate yang bernama “Syekh Subuh”. Karena ulama ini tiba di Sambori pada saat Subuh. Maka Syekh inipun dikenal dengan nama Syekh Subuh. Makam Syekh Subuh berada di atas puncak gunung Sambori, yang dianggap sebagai kuburan keramat.

    Masyarakat Sambori memiliki kebiasaan mengunyah daun sirih. Kebiasaan ini dikarenakan suhu dan udara di desa sambori sangat dingin, sehingga untuk melawan udara dingin, mereka mengunyah daun sirih yang dicampur dengan beberapa ramuan sehingga badan menjadi hangat.

    Masyarakat Sambori rata-rata bekerja sebagai petani. Sehari-hari mereka sudah mengenal bercocoktanam sejak zaman nenek moyang. Mereka memiliki ladang dan kebun yang ditanami berbagai jenis tanaman untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

    Sumber : protomalayans.blogspot.com

    ,

    Seni budaya tradisional Bima berkembang cukup pesat pada masa pemerintahan sultan Abdul Kahir Sirajuddin, sultan Bima ke-2 yang memerintah antara tahun 1640-1682 M. Salah satunya adalah Tarian Selamat Datang atau dalam bahasa Bima dikenal dengan Tarian Wura Bongi Monca. Gongi Monca adalah beras kuning. Jadi tarian ini adalah Tarian menabur Beras Kuning kepada rombongan tamu yang datang berkunjung.

    Tarian ini biasanya digelar pada acara-acara penyabutan tamu baik secara formal maupun informal. Pada masa kesultanan tarian ini biasa digelar untuk menyambut tamu-tamu sultan. Tarian ini dimainkan oleh 4 sampai 6 remaja putri dalam alunan gerakan yang lemah lembut disertai senyuman sambil menabur beras kuning kearah tamu, Karena dalam falsafah masyarakat Bima tamu adalah raja dan dapat membawa rezeki bagi rakyat dan negeri.

    Sumber : bimakota.go.id

    ,

    Jenis tarian ini berasal dari Sulawesi Selatan dengan nama asli Kuntao. Namun di Bima diberi nama Gantao. Atraksi seni yang mirip pencak silat ini berkembang pesat sejak abad ke-16 Masehi. Karena pada saat itu hubungan antara kesultanan Bima dengan Gowa dan Makasar sangat erat.

    Atraksi ini dapat dikategorikan dalam seni Bela diri (silat), dan dalam setiap gerakan selalu mengikuti aturan musik tradisional Bima (Gendang, Gong, Tawa-tawa dan Sarone). Pada zaman dahulu setiap acara-acara di dalam lingkungan Istana Gantao selalu digelar dan menjadi ajang bertemunya para pendekar dari seluruh pelosok, hingga saat ini Gantao masih tetap lestari detengah-tengah masyarakat Bima dan selalu digelar pada acara sunatan maupun perkawinan).

    Sumber: bimakota.go.id

    Di Pulau Sumba dikenal dengan kuda Sandel Wood, maka di Bima dikenal dengan kuda anjing atau jara poro. Disebut kuda anjing karena kudanya kecil-kecil (kurang lebih tingginya 1 m).

    Pacuan kuda sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Bima. Berlangsung empat sampai lima kali setahun, acara pacuan kuda dilaksanakan di arena pacuan Desa Panda yang berjarak 6 km dari ibukota Kabupaten Bima. Musim pacuan biasa diselenggarakan pada setiap bulan April, Mei, Juli, Oktober dan Desember. Event ini disaksikan oleh ribuan penonton yang datang dari berbagai pelosok.

    Kuda yang mengikuti lomba adalah kuda-kuda dari Bima dengan joki anak-anak berusia 6 – 8 tahun, tanpa mengenakan pelana. Kadang-kadang juga diundang kuda-kuda dari Sumbawa, Lombok, dan kuda NTT untuk ikut berlomba. Untuk menyaksikan lomba ini cukup membayar karcis masuk dan telah tersedia tempat duduk baik umum maupun VIP. [Sumber: Kenali dan Cintai Bima]

    Istana Kesultanan Bima terletak di jantung Kota Bima. Sekarang telah difungsikan sebagai museum yang diberi nama “Asi Mbojo”.

    Istana Kesultanan Bima sekarang dibangun di atas tanah dalam areal “asi tua” (Istana Sultan Ibrahim) pada tahun 1927 oleh Sultan Muhammad Salahuddin, Sultan Bima ke-14 yang memerintah tahun 1915-1951, menggantikan ayahnya, Sultan Ibrahim (memerintah tahun 1881-1915). Bangunan perpaduan konstruksi Eropa dan tradisional Bima tersebut, dirancang oleh arsitektur Ambon bernama Mr. Obzichter Pehatta.

    Di dalam istana ini masih tersimpan benda-benda peninggalan raja dan sultan tempo dulu, seperti mahkota yang terbuat dari emas dan intan berlian, keris jabatan raja/sultan dan beberapa keris jabatan para pembesar kerajaan serta perabot rumah tangga lainnya.

    Di bagian depan istana terdapat tiang bendera berbentuk perahu dan pintu gerbang lare-lare. Bagian timur terdapat istana baru atau asibou, bagunan berciri khas Bima tersebut terbuat dari kayu jati Desa Tololai. Oleh karenanya masyarakat Bima menyebutnya dengan “Jati Tololai”.

    Di halaman istana sering dipergunakan untuk acara upacara adat Hanta U’a Pua dan Festival Kesenian Daerah.

    Di sekitar bagunan istana sultan juga terdapat :
    • Rumah kediaman sultan dan keluarganya yang saat ini berfungsi sebagai pendopo Bupati Bima.
    • Lapangan Sera Suba atau lapangan tempat berlatihnya prajurit sultan.
    • Masjid kesultanan Bima yang diberi nama Masjid Sultan Muhammad Salahuddin, di halamannya terdapat makam beberapa keluarga dan Sultan/Raja Bima.
    • Di sebelah utara dan barat juga terdapat hotel melati, restoran, pos kepolisian serta pusat perbelanjaan.
    Untuk mengunjungi istana cukup membayar tarif masuk sebesar Rp. 5000,- per orang. [Sumber: Kenali dan Cintai Bima]

    Makam ini terletak satu kilometer di sebelah selatan Istana Kesultanan Bima. Tepatnya di atas Bukit Dana Taraha. Terdapat makam Sultan Bima pertama yang merupakan penerima ajaran Islam pertama di Bima yakni Sultan Abdul Kahir atau raja terakhir dari Kerajaan Bima.

    Disamping itu terdapat makam Putra H. Abdul Kahir Jena Teke/Raja Muda Kesultanan Bima sekaligus bupati pertama daerah kabupaten Bima setelah berakhirnya pemerintahan berdasarkan kesultanan ke sistem pemerintahan swapraja. Beberapa makam lainnya adalah makam kerabat kesultanan dan makam para pembesar agama Islam pada zamannya.

    Tempat ini banyak dikunjungi oleh peziarah baik pada pagi, siang atau pun sore hari. Dari atas Bukit Dana Taraha, Anda juga dapat menikmati panorama sekitar Kota Bima dan Teluk Bima. [Sumber: Kenali dan Cintai Bima]

    Bagi Anda yang memiliki hobi tracking, mendaki Gunung Tambara bukan sekedar pendakian biasa. Tetapi perjalanan menelusuri titian sejarah. Letusan maha dahsyat pernah terjadi pada tahun 1815 silam. 

    Menapaki sejarah tiga kerajaan yang terluluhlantahkan, yakni Kerajaan Sanggar, Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat. Meniti jejak-jejak letusan yang menewaskan 92.000 jiwa. 
     
    Karena kedahsyatan letusannya Tambora pun tercatat dalam sejarah dunia. Kehebatan letusannya menembus batas-batas akal pikiran manusia, tercatat sekitar enam juta kali kekuatan bom atom. Dari letusan inilah yang membentuk kawah dengan lebar sekitar 9 km, dan kedalaman 1.110 meter. Menyebarkan sekitar 150 km3 debu, hingga mencapai kejauhan 1.300 km.

    Bila Anda berada di puncaknya, sejauh mata memAndang, Anda akan berdecak kagum. Bayangkan saat letusan itu terjadi, Jawa Tengah dan Kalimantan diselimuti debu hitam, meski dalam jarak sekitar 900 km dari pusat letusan, berjatuhan debu setebal 1 cm. Bongkahan letusannya melayang hingga mencapai ketinggian 44 km. Iklim dunia waktu itu berubah drastis. Menyebabkan tahun tanpa musim panas, suhu minimum setiap hari secara tidak wajar minjadi rendah di belahan bumi utara dari akhir musim semi hingga awal musim gugur. Kelaparan meluas karena gagal panen. Itulah sekelumit cerita dahsyatnya letusan Gunung Tambora yang melegenda sampai kapan pun.

    Mendaki Tambora sebaiknya melewati Desa Kawinda To’i yang berada di Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, jarak tempuh lebih dekat. Sepanjang perjalanan Anda akan menjumpai masyarakat pencari madu alam. Menikmati Tambora seakan mengingatkan Anda pada padang rumput Afrika, atau menelusuri sepanjang pesisir Pantai Kerobih berupa batu karang yang bentuknya sangat indah dengan relief alami. Di bagian selatan, Anda akan disuguhi perbukitan dengan latar belakang pemandangan yang begitu memikat, sehingga sejauh mata memandang terlihat seolah hamparan permadani.

    Tambora dapat dijangkau dengan menggunakan pesawat udara dari Mataram, sekitar 1 jam menuju Bandar Udara Sultan Muhammad Salahudin Bima. Dari Bima dapat ditempuh melalui darat menuju Tambora berjarak 100 km melewati kecamatan sanggar dengan jarak tempuh perjalanan sekitar 3 jam. Sebagai alternatif Anda bisa menghubungi Saudara Yacub Wahab (Mobile: 081 237 004 171) atau Saudara Nurdin Tayeb (Mobile: 081 353 629 353). [Sumber: Kenali dan Cintai Bima]


Top