Most Popular
This Week
Donggo
Secara historis orang bima atau dou mbojo dibagi dalam 2 (dua) kelompok masyarakat: Asli dan Masyarakat Pendatang. Masyarakat donggo atau...
Tari Sere
Pada masa kejayaan kesultanan Bima, banyak sekali tarian dan kreasi seni yang diciptakan. Secara umum, tarian tradisional Bima dibagi d...
Suku Mbojo
Suku Bima merupakan suku yang mendiami Kabupaten Bima, Kota Bima, Kabupaten Dompu Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sukun ini telah ada sejak...
Sambori
Orang Sambori, adalah komunitas masyarakat yang termasuk bagian dari suku Bima, yang berdiam di desa Sambori kabupaten Bima provinsi Nusa...
Tari Wura Bongi Monca
Seni budaya tradisional Bima berkembang cukup pesat pada masa pemerintahan sultan Abdul Kahir Sirajuddin, sultan Bima ke-2 yang memerinta...
Popular Posts
Latest Stories
What is new?
Comments
What They says?
Latest News
Pemerintah Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat
Budaya, Top
Uma Lengge dan Jompa yang ada di lokasi ini mengundang perhatian setiap orang untuk mengunjunginya. Pada masa lalu, padi disimpan di Uma Lengge atau Uma Jompa untuk kebutuhan satu tahun. Penempatannya yang terpisah dengan rumah tinggal penduduk konon dimaksudkan untuk mencegah efek domino yang merugikan apabila terjadi bencana kebakaran. Dengan demikian, apabila rumah tempat tinggal penduduk terbakar, maka padi yang disimpan di dalam Uma Lengge atau Uma Jompa tidak akan ikut terbakar, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itulah, kompleks Uma Lengge di Desa Maria dibangun agak jauh dari pemukiman penduduk.
Ada beberapa atraksi unik yang dapat anda saksikan di kompleks Uma Lengge. Atraksi ini telah menyatu dengan kompleks ini disamping upacara Adat Ampa Fare yang rutin dilaksanakan seusai panen.Berikut beberapa atraksi kesenian unik di kompleks Lengge Wawo yang biasa disuguhkan untuk para wisatawan.
Kesenian
Atraksi ini dikenal juga dengan Adu Kepala. Merupakan tarian tradisional masyarakat Desa Ntori kecamatan Wawo yang sudah ada sejak abad ke-15. Tradisi
Setelah semua persiapan akad nikah dirampungkan dan calon pengantin wanita sudah dirias oleh Ina Ruka( Inang Pengasuh), penghulu/petugas pencatat nikah menghadirkan ayah bunda dari calon pengantin wanita ke Uma Ruka(Rumah Mahligai tempat merias pengantin). Calon pengantin wanita duduk bersimpuh di depan ayahandanya dan mengucapkan kata-kata penuh syahdu.
“Ama, Mboto-mboto kangampu, mada raho kasi ade labo bareka ita, kanika pu mada labo la Dahlan.“
(Ayahanda, saya datang bersumpuh dikakimu, ijinkan saya untuk menikah dengan Dahlan.)
Permintaan calon pengantin wanita itu kemudian dibalas oleh Sang Ayah.
“Iora Anae, nahu ma kanika nggomi labo la Dahlan.”
(Kalau begitu keinginanmu, akan aku nikahkan engkau dengan Dahlan)
Kemudian Calon Pengantin Wanita bersujud dan mencium tangan ayah dan bundanya. Di beberapa wilayah di Bima, prosesi ini kadang mengharukan. Tidak jarang orang-orang yang menyaksikan prosesi ini menitikan air mata keharuan. Weha Nggahi tentu bukan sekedar prosesi meminta ijin dan restu pada orang tua untuk menikah, tapi memiliki makna yang luas, bahwa pernikahan itu adalah perjalanan panjang penuh liku dan membutuhkan persiapan mental bagi yang melaluinya. Pernikahan itu adalah bahtera yang akan dijalani. Restu orang tua merupakan penuntun langkah bagi kedua pengantin dalam menjalani bahtera cinta dalam bingkai rumah tangga yang penuh dengan romantika kedepannya.
Kuliner
Meskipun pembuatan Dodol semacam ini juga banyak dibuat oleh masyarkat di wilayah lainnya, tapi dodol yang terkenal adalah Kadodo Wera. Ada satu desa di kecamatan Wera yang orang-orangnya sangat ahli membuat Kadodo yaitu di desa Nunggi. Hingga saat ini keterampilan membuat Kadodo Wera masih tetap terwarisi, bahkan menyebar ke desa-desa lainnya di Wera.
Pada masa lalu, pembuatan Kadodo hanya dilakukan pada saat ada hajatan seperti perkawinan, khatam Al-qur’an, khitanan dan lain-lain. Pembuatan Kadodo dilakukan secara gotong royong oleh warga diiringi musik tradisional Bima seperti Biola dan Gambo, Rawa Mbojo serta atraksi Gantaong.
Menurut Halimah (58 thn), salah seorang pembuat Kadodo asal desa Nunggi bahan pembuatan Kadodo Wera untuk sebuah perayaan dibutuhkan 10 kg tepung beras ketan, 50 batang gula merah, 30 butir kelapa, gula pasir, garam, dan bawang Goreng. Untuk membuat dodol yang bermutu tinggi cukup sulit karena proses pembuatannya yang lama dan membutuhkan keahlian.
Oleh sebab itu, dalam proses pembuatannya campuran dodol harus diaduk terus menerus untuk mendapatkan hasil yang baik. Waktu pemasakan dodol kurang lebih membutuhkan waktu 4 jam dan jika kurang dari itu, dodol yang dimasak akan kurang enak untuk dimakan. Setelah 2 jam, pada umumnya campuran dodol tersebut akan berubah warnanya menjadi cokelat pekat. Pada saat itu juga campuran dodol tersebut akan mendidih dan mengeluarkan gelembung-gelembung udara.
Selama ini pembuatan Kadodo Wera masih bersifat tradisional terutama pada saat hajatan saja. Pemasarannya pun nyaris tidak pernah dilakukan di luar kecamatan Wera. Perlu upaya pendekatan, fasilitasi dan sentuhan pemberdayaan terhadap para pembuat Kadodo Wera agar produk warisan leluhur ini mampu menerobos pasar. Seperti Dodol Garut dan dodol-dodol lainnya di tanah air.
Kuliner
Marsita salah seorang Pengusaha Jajan Bunga yang telah cukup lama menekuni usaha ini mengatakan Pangaha Bunga buatannya banyak di minati masyarakat Bima maupun luar Bima seperti Sumbawa, Mataram, Denpasar dan Jakarta.
Kuliner
Minuman ini, bermanfaat sebagai obat atau biasa disebut minuman penghangat tubuh.
Mina Sarua bukan hanya sekedar minuman. Bahan-bahan yang terkandung di dalamnya antara lain Tape ketan dan rempah-rempah.
Pada musim hujan (dingin) minuman ini sangat baik untuk menjaga stabilitas tubuh, karena komposisinya mengandung bahan-bahan rempah alami.
Proses pembuatan Mina Sarua berlangsung selama dua hari. Campuran beras ketan dan ragi akan di diamkan selama satu malam. Paginya rempah-rempah antara lain Jahe, Merica dan Lada, di goreng. Lalu beras ketan yang telah menjadi tape ketan itu di campur dengan rempah yang telah di goring. Kemudian di masak bersama santan kelapa dan siap di sajikan.
Namun Mina sarua ini rasanya tidak nikmat tanpa pelengkap yaitu TaI Mina. TaI Mina ini dibuat terpisah dan berbahan dasar kelapa parut. Kelapa tersebut diolah dengan minyak dan campuran sedikit bumbu. Cara penyajiannya, Tai Mina dicampur atau di tabur dalam Mina Sarua.
Mina Sarua berasal dari kata Minyak Saruang, berupa minyak oles yang berfungsi sebagai obat keseleo, sakit perut, masuk angin dan beberapa manfaat lainnya, yang pertama kalinya di racik oleh orang Sumbawa.
Setelah beberapa orang Sumbawa itu merantau ke Bima, tepatnya di Wilayah Sila, merekapun membawa minyak Saruang untuk di perkenalkan pada warga setempat. Oleh orang-orang Bima, kemudian meracik obat tersebut menjadi minuman penghangat tubuh.
Akhirnya bahan dasar rempah minyak Saruang di padu dengan tape ketan. Karena dialeg Bima yang pada umumnya tidak kesampean, maka secara gamblang saja Minyak Saruang berubah nama menjadi Mina Sarua.
Kuliner
Pengananan ini terbuat dari beras ketan yang dimasak dalam seruas bambu, setelah sebelumnya digulung dengan selembar daun pisang. Gulungan daun bambu berisi tepung beras dicampur santan kelapa ini kemudian dimasukkan ke dalam seruas bambu lalu dibakar sampai matang. Timbu lebih nikmat disantap hangat-hangat. Cara mengonsumsi Timbu memang berbeda-beda dari daerah ke daerah. Khusus di Bima-Dompu, Timbu lebih nikmat disantap dengan Mina Sarua atau tape ketan. Di Sila, Timbu disantap dengan Mina Sarua sedangkan di Dompu disuguhkan dengan Tape Ketan.
Diperlukan waktu sekitar dua sampai dua setengah jam untuk memasak beras ketan dalam bambu itu dengan api yang sedang, sebelum dibakar dengan tungku khusus yang terbuat dari besi atau kayu yang keras. Pertama –pertama menyediakan beras ketan yang sudah direndam selam lima sampai enam jam dengan menggunakan air bersih, setelah beras direndam, kemudian dikeringkan hingga airnya terkuras habis. Setelah itu, beras yang sudah kering tersebut siap dimasukkan kedalam potongan bambu. Sebelum beras dimasukkan kedalam bambu, harus dipastikan bambu sudah tercuci bersih dengan air bersih. Barulah beras dimasukkan kedalam bambu tua yang berukuran sedang.
Sebelum memasukkan beras, bambu tersebut dilapisi dengan daun pisang muda yang sudah bersih. Proses terakhir adalah dengan memasukkan santan dengan campuran garam secukupnya. Proses memasak Timbu tersebut dilakukan dengan lebih dahulu menyiapkan tungku yang berbentuk panjang segi empat dengan ukuran sesuai dengan kebutuhan. Memasak Timbu tidak seperti membakar ubi kedalam bara api yang sedang berkobar. Cukup dengan menyangai dengan api yang sedang. selama pembakaran diperlukan beberapa tahap untuk mengalih atau memutar bambu tersebut dengan tujuan supaya beras ketan masak dengan sempurna dengan waktu lebih kurang dua jam.(*alan)
Sosok
M. Hilir Ismail adalah budayawan Bima yang terkenal akan dedikasi, totalitas dan keberaniannya dalam menggiatkan dan melestarikan budaya Bima.
Beliau mendirikan Sanggar Seni Paju Monca pada tahun 1984 di mana anak-anak dari usia taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas belajar dan berlatih menari dan seni musik selama dua kali seminggu. Dengan setia Hilir mengawal dan membimbing anak-anak asuhnya berpacu mengembangkan bakat seni tari dan seni musik. Banyak dari anak-anak didiknya yang mendapatkan gelar sarjana tari dan sekarang sudah memiliki sanggar dan murid sendiri.
Bersama istrinya, Linda Yulianti, yang merupakan guru kesenian dan praktisi tari, Hilir menciptakan karya tari. Pasangan ini seakan saling melengkapi satu sama lain, Hilir memberikan ide dan Linda mewujudkannya dalam bentuk tarian. Salah satu karya mereka, Suba Monca, yang memiliki arti pasukan istana, adalah tari perang yang menggambarkan kisah heroik dan sempat menjadi popular serta kerap kali ditayangkan oleh TVRI pada tahun 1990an.
Kepedulian pria yang lahir di Desa Nata, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima akan seni tradisi dan budaya Bima tak perlu diragukan lagi. Beliau sama sekali tidak keberatan harus berkorban materi untuk membiayai akomodasi dan transportasi anak asuh dari sanggarnya dari rumah ke tempat pementasan ketika menghadiri pentas di luar daerah karena bantuan dana dari pemerintah daerah relatif terbatas.
Bahkan ketika memenuhi undangan Pemerintah Kota Bima pun, Hilir tetap berkorban. Karena biasanya selain tidak disediakan makan malam di tempat pementasan, sehabis pentas mobil jemputan pun sering tak kunjung tiba sehingga selain harus membelikan makan malam untuk anak asuhnya, Hilir pun harus menyewa kereta kuda untuk mengantar anak asuhnya pulang.
Tantangan terbesar yang pernah dihadapi oleh Mantan Ketua Harian Istana Kesultanan Bima ini mungkin ketika beliau dipercaya merintis berdirinya Museum Asi Mbojo. Gedung bekas kediaman sultan dari Kesultanan Bima yang sedianya akan dijadikan museum tersebut sudah 10 tahun lebih tidak ditempati. Seluruh ruangannya berdebu dan menjadi sarang laba-laba. Ternak sapi dan kambing pun berkeliaran di halaman yang dipenuhi oleh sampah dan semak belukar. Tak hanya itu saja, benda-benda koleksi ataupun lemari pajang untuk memajang benda koleksi pun tak ada.
Kondisi ini tidak menyurutkan Hilir. Beliau merogoh kantongnya untuk membayar orang untuk membersihkan ruang dalam gedung dan halaman. Karena hanya sendiri tanpa karyawan, Hilir pun bertindak sebagai juru kunci sekaligus tukang sapu setiap kali masuk ruang kerjanya. Setelah masalah gedung teratasi dan lemari pajang diberikan atas hibah dari Museum Negeri NTB, masalah Hilir adalah mengenai isi lemari pajang tersebut.
Maka beliau pun berkeliling desa-desa, meminta keringanan hati warga untuk menyumbangkan peralatan rumah tangga, alat pertanian, alat melaut, peralatan untuk acara daur hidup dan pernikahan, dan lain sebagainya. Setelah benda-benda koleksi terkumpul, Hilir pun mulai menata letak benda koleksi agar berkesinambungan dan dapat memberikan gambaran kepada para pengunjung mengenai kehidupan masyarakat Bima.
Dedikasi dan totalitasnya dalam pelestarian seni tradisi Bima juga beliau wujudkan dalam bentuk tulisan. Peran Kesultanan Bima dalam Sejarah Nusantara adalah buku yang diterbitkan pada tahun 1998 dan beredar sampai ke Belanda, Jerman, dan Selandia Baru. Buku-buku lainnya seperti Kebangkitan Islam di Dana Mbojo (Tanah Bima) terbit pada tahun 2004 dan Menggali Pusaka Terpendam, buku bunga rampai yang berisi buah pikirannya tentang adat istiadat dan sistem nilai budaya Bima.
Beliau meninggal pada tanggal 7 Januari 2011, jam 10.43 pagi, di Ruang Tulip, RSUD Bima, setelah dirawat selama 8 hari dengan keluhan sesak napas dan nyeri di paru-paru dan jantungnya. Beliau meninggalkan seorang istri, 10 anak dan 10 cucu. Jenazahnya dimakamkan pada hari yang sama, jam 4.30 sore di tempat kelahirannya, , dihadiri oleh St. Maryam R. Salahuddin dan bupati Bima H. Ferry Zulkarnain.
Kesenian
Tari Sere merupakan tari klasik Istana. Tari ini diciptakan oleh Sultan Abdul Khair Sirajuddin, dimainkan oleh dua orang perwira kesultanan, bersenjatakan tombak dan perisai. Dengan wajah perkasa serta keberanian yang membara, dua perwira melompat dan berlari ke segala penjuru, berenjatakan tombak menyerang dan menangkis serangan musuh. Sebagai pancaran menghadapi musuh – musuh Dou Labo Dana (Rakyat dan Negeri).
Para penari selalu melakukan gerakan melompat sambil berlari, oleh sebab itu tari ini di berinama mpa’a sere, yang berarti melompat sambil berlari (sere). Tari ini diiringi musik tambu (tambur). Hingga kini, Sere masih tetap eksis, dan selalu digelar/dipertunjukkan pada saat penyambutan tamu-tamu penting pada acara-acara Pemerintah maupun perayaan Hanta UA PUA. Namun generasi Sere ini perlu diupayakan Regenerasi agar tongkat estafet pelestarinnya dapat dilanjutkan. (*alan)
Kesenian
Semua atraksi kesenian dan tari-tarian ini oleh Pemerintah Kota Bima selalu di gelar pada setiap perayaan hari-hari besar daerah, propinsi dan nasional bahkan untuk menyambut para tamu-tamu pemerintahan, wisatawan dan kegiatan-kegiatan ceremonial lainnya yang terpusat di Paruga Nae (tempat khusus pagelaran seni budaya dengan arsitektur khas tradisional rumah adat Bima).
Kesenian
Syair dan senandung Rawa Mbojo didominasi pantun khas Bima yang berisi nasehat dan petuah, kadang pula jenaka dan menggelitik. Ini adalah sebuah warisan budaya tutur yang tak ternilai unuk generasi. Dalam Rawa Mbojo terdapat beragam lirik yang dikenal dengan istilah Ntoro. Ada Ntoko Tambora, Ntoko Lopi Penge, dan Ntoko lainnya. Tiap Ntoko memiliki khas masing-masing. Misalnya Ntoko Tambora dilantunkan dalam syair dan irama yang mengambarkan kemegahan alam. Ntoko Lopi Penge mengambarkan suasana laut dan gelombang.
Sumber : bimakota.go.id
Budaya, Top
- Kebesaran masyarakat donggo : hanya dapat dipakai pada upacara-upcara adat seperti: sasangi, kabusi rasa, ampa ncuhi, dapu, mpisi, kalero dan lain-lain. Bahkan dipakai di hadapan raja.
- Laki-laki (Masyarakat Biasa): Sangat beda dengan masyarakat lain laki-laki selembar baju hitam yang bergaris tegak lurus putih dengan berbentuk kimono yang berlubang pada lehernya dan lengan yang disebut kababu compo sendangkan bagian bawah disambung dengan rumbai-rumbai (jambo), rambut panjang diikat runcing dengan ro’o laju.
- Wanita (Masyarakat Biasa) : memakai ka’ba’bu adan tembe sangga dengan rambut di gulung (di sanggil) berbentuk bonggolan dan sisir yang dipake adalah dari tangan.
Budaya, Top
Dou donggo mendiami lereng-lereng gunung Lambitu yang di sebut donggo ele sementara dou donggo yang mendiami lereng gunung soromandi disebut donggo ipa, mereka tinggal disuatu perkampungan dengan rumah adat disebut Lengge di kelilingi pegunugan dan pembukitan serta panorama alam yang indah dan menarik untuk di nikmati.
Ciri khas masyarakat donggo atau Dou Donggo sering orang menilai bahwa masyarakat Donggo itu berwatak keras seperti batu karena logat bahasanya sangat keras dan unik seperti orang yang emosional dan warna kulit lelakinya agak lebih hitam, wanita bila keluar rumah membawa senjata tajam sekurang-kurangnya pisau.
Falsafah hidup dou Donggo senang hidup dalam kondisi pegunungan dan daratan tinggi. Rumah dibangun sangat tinggi sekitar 6 sampai 7 meter dengan ukuran kecil sekitar 3×4 meter dengan maksud untuk menyimpan panas, mata pencahriannya dengan berladang dan beburu. Rasa kekeluargaan dan sukuisme serta sifat gotong royong sangat erat.
Kondisi daerah donggo terdiri dari tanah, pegunungan yang berbatuan dan kerikil tajam, dibalik kebatuan tersimpan mata air yang suci dan jernih jauh dari polusi yang menumbuhkan jiwa masyarat donggo yang sebenarnya yaitu lugu polos dan suci walaupun berbatuan namun daerahnya sangat subur dan hasil melimpah dua.
Adat dan Budaya
Dibangun tempat tinggal sangat jauh beda dengan masyarakat lain, yaitu tinggi rumah sampai 7 meter dengan ukuran kecil sekitar 3×4 meter. Membangun rumah adat atau uma leme untuk ncuhi atau kepala suku dalam bentuk uma leme, berdindingkan atap seperti alang-alang dengan maksud menyimpan panas rumah ini terdiri dari empat tiang yang bersegi 8 (delapan) yang dibuta dari kayu sangga yaitu kayu yang bisa menolak bala dan bencana, rumah ini disebut juga rumah ncuhi atau uma ncuhi. Karena disinalah disimpan barang-barang sesembakan dan alat-alat kesenian.
Ruang yang bersegi delapan itu menujukan bahwa pemimpin yang brhak menjadi ncuhi yaitu orang yang guru waru.
Pakaian
Warna pakaian has donggo adalah hitam berbelah biru juga ada beberapa bolangan merah dengan makna: warna hitam berarti keagungan, warna biru berarti kasisayang, warna merah berarti kejantanan, warna putih pada kimono berarti kesucian. Pakaian semacam ini adalah pakaian kebesaran atau keagungan.
Kesenian :
Kesenian yang disukai masyarakat donggo ipa mpisi dan kalero.
- Mpisi adalah sentuhan kaki akibat haru dan kecewa.
- Kalero adalah dendangan lagu ratapan.
Budaya, Top
Orang Sambori memiliki keunikan tersendiri baik dari sisi sejarah maupun budayanya. Salah satu dari keunikan itu adalah bahasa yang dituturkan berbeda dengan bahasa Bima. Dikatakan unik, bahwa orang Sambori sendiri disebut juga sebagai suku Bima, tetapi memiliki bahasa yang berbeda dengan bahasa Bima pada umumnya. Orang Sambori berbicara dalam bahasa Sambori, yang dikatakan merupakan dialek bahasa Bima, tapi bisa dikatakan dialek apabila terdapat persamaan 50% sampai 80%, tapi bahasa Sambori justru perbedaannya yang mencapai 80% dengan bahasa Bima. Jadi bisa dikatakan bahasa Sambori adalah bahasa yang berbeda dengan bahasa Bima.
Bahasa Sambori menyebar di sejumlah kampung dan desa yang ada di gugusan pegunungan La Mbitu di tenggara Kota Bima seperti di desa Tarlawi, Kaboro, Teta, Kalodu, Sambori, Kadi dan Kuta. Desa-desa ini masuk dalam wilayah kecamatan pemekaran La Mbitu, kecuali desa Tarlawi yang masuk dalam wilayah kecamatan Wawo karena jaraknya sekitar 7 km dari Wawo serta desa Kalodu yang masuk wilayah kecamatan Langgudu.
Masyarakat di desa-desa di atas dalam sejarah Bima dijuluki dengan Dou Donggo Ele. Sedangkan masyarakat dan desa yang berada di gugusan pegunungan Soromandi di sebelah barat teluk Bima disebut Dou Donggo Ipa. Masih perlu peneilitian lagi terkait dengan bahasa Dou Donggo Ipa ini. Apakah bahasa mereka juga sama dengan Bahasa Donggo Ele. Sebab dari penuturan masyarakat di sana, terdapat sedikit perbedaan antara bahasa Donggo Ele dan bahasa Donggo Ipa. Ada yang berpendapat bahasa Sambori adalah merupakan bahasa asli suku Bima, atau merupakan bahasa nenek moyang suku Bima, yang sekarang masih tersimpan dalam masyarakat Sambori.
Orang Sambori dikelompokkan ke dalam bagian suku Bima, tetapi ada anggapan bahwa orang Sambori termasuk bagian dari suku Donggo. Tidak bisa dipastikan mana yang benar, karena belum ada penelitian lebih lanjut mengenai ini.
Apabila dilihat dari kebiasaan, tata kehidupan, budaya dan bahasa, sepertinya orang Sambori bisa dikatakan sebagai etnis tersendiri, yang berbeda dengan etnis-etnis lain di Nusa Tenggara Barat ini. Tetapi sampai saat ini orang Sambori lebih suka menyebut diri mereka sebagai orang Bima.
Pakaian adat masyarakat Sambori berbeda dengan pakaian adat suku Bima-Dompu pada umumnya. Masyarakat Sambori tampil berbeda, yang terlihat dalam pakaian sehari-hari. Laki-laki dewasa biasanya memakai Sambolo (ikat kapala) yang terbuat dari kain kapas tenunan dengan hiasan kotak-kotak berwarna hitam atau putih. Dipadu dengan baju Mbolo Wo’oatau, yaitu baju tanpa kerah yang terbuat dari kain katun dberwarna hitam atau putih.
Orang Sambori memakai sarung yang disebut Tembe Me’e (sarung hitam) khas Sambori dipintal dan ditenun dari bahan kapas berwarna hitam. Dipakai dengan cara dililit pada bagian perut. Kemudian mereka memakai aksesoris Weri atau Bala (kain ikat pinggang) yang diselempangkan melingkar pada bagian perut sampai di atas paha, yang berrfungsi untuk menguatkan lilitan sarung.
Sedangkan para perempuan dewasa, memakai baju Poro Me’e, yang terbuat dari kain katun dengan bentuk menyerupai baju Poro pada pakaian adat masyarakat Bima umumnya. Sarung memakai Tembe Me’e, dibuat agak panjang karena cara memakainya yaitu dengan cara dimasukkan secara lurus melalui kepala atau kaki. Kemudian dibiarkan lepas sampai ke betis, sekedar pelengkap mereka mengenakan Kababu,yang diselempangkan pada bahu. Untuk rambut ditata dengan membuat semacam ikatan yang dibentuk meninggi di atas kepala yang disebut Samu’u Tu’u.
Masyarakat desa Sambori mayoritas memeluk agama Islam. Menurut mereka agama Islam masuk ke dalam masyarakat Sambori, dibawah oleh seorang ulama dari Ternate yang bernama “Syekh Subuh”. Karena ulama ini tiba di Sambori pada saat Subuh. Maka Syekh inipun dikenal dengan nama Syekh Subuh. Makam Syekh Subuh berada di atas puncak gunung Sambori, yang dianggap sebagai kuburan keramat.
Masyarakat Sambori memiliki kebiasaan mengunyah daun sirih. Kebiasaan ini dikarenakan suhu dan udara di desa sambori sangat dingin, sehingga untuk melawan udara dingin, mereka mengunyah daun sirih yang dicampur dengan beberapa ramuan sehingga badan menjadi hangat.
Masyarakat Sambori rata-rata bekerja sebagai petani. Sehari-hari mereka sudah mengenal bercocoktanam sejak zaman nenek moyang. Mereka memiliki ladang dan kebun yang ditanami berbagai jenis tanaman untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Sumber : protomalayans.blogspot.com
Kesenian, Top
Tarian ini biasanya digelar pada acara-acara penyabutan tamu baik secara formal maupun informal. Pada masa kesultanan tarian ini biasa digelar untuk menyambut tamu-tamu sultan. Tarian ini dimainkan oleh 4 sampai 6 remaja putri dalam alunan gerakan yang lemah lembut disertai senyuman sambil menabur beras kuning kearah tamu, Karena dalam falsafah masyarakat Bima tamu adalah raja dan dapat membawa rezeki bagi rakyat dan negeri.
Kesenian, Top
Atraksi ini dapat dikategorikan dalam seni Bela diri (silat), dan dalam setiap gerakan selalu mengikuti aturan musik tradisional Bima (Gendang, Gong, Tawa-tawa dan Sarone). Pada zaman dahulu setiap acara-acara di dalam lingkungan Istana Gantao selalu digelar dan menjadi ajang bertemunya para pendekar dari seluruh pelosok, hingga saat ini Gantao masih tetap lestari detengah-tengah masyarakat Bima dan selalu digelar pada acara sunatan maupun perkawinan).
Sumber: bimakota.go.id
Pariwisata
Pacuan kuda sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Bima. Berlangsung empat sampai lima kali setahun, acara pacuan kuda dilaksanakan di arena pacuan Desa Panda yang berjarak 6 km dari ibukota Kabupaten Bima. Musim pacuan biasa diselenggarakan pada setiap bulan April, Mei, Juli, Oktober dan Desember. Event ini disaksikan oleh ribuan penonton yang datang dari berbagai pelosok.
Kuda yang mengikuti lomba adalah kuda-kuda dari Bima dengan joki anak-anak berusia 6 – 8 tahun, tanpa mengenakan pelana. Kadang-kadang juga diundang kuda-kuda dari Sumbawa, Lombok, dan kuda NTT untuk ikut berlomba. Untuk menyaksikan lomba ini cukup membayar karcis masuk dan telah tersedia tempat duduk baik umum maupun VIP. [Sumber: Kenali dan Cintai Bima]
- Rumah kediaman sultan dan keluarganya yang saat ini berfungsi sebagai pendopo Bupati Bima.
- Lapangan Sera Suba atau lapangan tempat berlatihnya prajurit sultan.
- Masjid kesultanan Bima yang diberi nama Masjid Sultan Muhammad Salahuddin, di halamannya terdapat makam beberapa keluarga dan Sultan/Raja Bima.
- Di sebelah utara dan barat juga terdapat hotel melati, restoran, pos kepolisian serta pusat perbelanjaan.
Pariwisata
Istana Kesultanan Bima sekarang dibangun di atas tanah dalam areal “asi tua” (Istana Sultan Ibrahim) pada tahun 1927 oleh Sultan Muhammad Salahuddin, Sultan Bima ke-14 yang memerintah tahun 1915-1951, menggantikan ayahnya, Sultan Ibrahim (memerintah tahun 1881-1915). Bangunan perpaduan konstruksi Eropa dan tradisional Bima tersebut, dirancang oleh arsitektur Ambon bernama Mr. Obzichter Pehatta.
Di dalam istana ini masih tersimpan benda-benda peninggalan raja dan sultan tempo dulu, seperti mahkota yang terbuat dari emas dan intan berlian, keris jabatan raja/sultan dan beberapa keris jabatan para pembesar kerajaan serta perabot rumah tangga lainnya.
Di bagian depan istana terdapat tiang bendera berbentuk perahu dan pintu gerbang lare-lare. Bagian timur terdapat istana baru atau asibou, bagunan berciri khas Bima tersebut terbuat dari kayu jati Desa Tololai. Oleh karenanya masyarakat Bima menyebutnya dengan “Jati Tololai”.
Di halaman istana sering dipergunakan untuk acara upacara adat Hanta U’a Pua dan Festival Kesenian Daerah.
Di sekitar bagunan istana sultan juga terdapat :
Pariwisata
Disamping itu terdapat makam Putra H. Abdul Kahir Jena Teke/Raja Muda Kesultanan Bima sekaligus bupati pertama daerah kabupaten Bima setelah berakhirnya pemerintahan berdasarkan kesultanan ke sistem pemerintahan swapraja. Beberapa makam lainnya adalah makam kerabat kesultanan dan makam para pembesar agama Islam pada zamannya.
Tempat ini banyak dikunjungi oleh peziarah baik pada pagi, siang atau pun sore hari. Dari atas Bukit Dana Taraha, Anda juga dapat menikmati panorama sekitar Kota Bima dan Teluk Bima. [Sumber: Kenali dan Cintai Bima]
Pariwisata
Bila Anda berada di puncaknya, sejauh mata memAndang, Anda akan berdecak kagum. Bayangkan saat letusan itu terjadi, Jawa Tengah dan Kalimantan diselimuti debu hitam, meski dalam jarak sekitar 900 km dari pusat letusan, berjatuhan debu setebal 1 cm. Bongkahan letusannya melayang hingga mencapai ketinggian 44 km. Iklim dunia waktu itu berubah drastis. Menyebabkan tahun tanpa musim panas, suhu minimum setiap hari secara tidak wajar minjadi rendah di belahan bumi utara dari akhir musim semi hingga awal musim gugur. Kelaparan meluas karena gagal panen. Itulah sekelumit cerita dahsyatnya letusan Gunung Tambora yang melegenda sampai kapan pun.
Mendaki Tambora sebaiknya melewati Desa Kawinda To’i yang berada di Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, jarak tempuh lebih dekat. Sepanjang perjalanan Anda akan menjumpai masyarakat pencari madu alam. Menikmati Tambora seakan mengingatkan Anda pada padang rumput Afrika, atau menelusuri sepanjang pesisir Pantai Kerobih berupa batu karang yang bentuknya sangat indah dengan relief alami. Di bagian selatan, Anda akan disuguhi perbukitan dengan latar belakang pemandangan yang begitu memikat, sehingga sejauh mata memandang terlihat seolah hamparan permadani.
Tambora dapat dijangkau dengan menggunakan pesawat udara dari Mataram, sekitar 1 jam menuju Bandar Udara Sultan Muhammad Salahudin Bima. Dari Bima dapat ditempuh melalui darat menuju Tambora berjarak 100 km melewati kecamatan sanggar dengan jarak tempuh perjalanan sekitar 3 jam. Sebagai alternatif Anda bisa menghubungi Saudara Yacub Wahab (Mobile: 081 237 004 171) atau Saudara Nurdin Tayeb (Mobile: 081 353 629 353). [Sumber: Kenali dan Cintai Bima]
Popular Posts
-
Donggo
Secara historis orang bima atau dou mbojo dibagi dalam 2 (dua) kelompok masyarakat: Asli dan Masyarakat Pendatang. Masyarakat donggo atau... -
Tari Sere
Pada masa kejayaan kesultanan Bima, banyak sekali tarian dan kreasi seni yang diciptakan. Secara umum, tarian tradisional Bima dibagi d... -
Suku Mbojo
Suku Bima merupakan suku yang mendiami Kabupaten Bima, Kota Bima, Kabupaten Dompu Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sukun ini telah ada sejak... -
Sambori
Orang Sambori, adalah komunitas masyarakat yang termasuk bagian dari suku Bima, yang berdiam di desa Sambori kabupaten Bima provinsi Nusa... -
Tari Wura Bongi Monca
Seni budaya tradisional Bima berkembang cukup pesat pada masa pemerintahan sultan Abdul Kahir Sirajuddin, sultan Bima ke-2 yang memerinta...
















