• Latest Stories

      What is new?

    • Comments

      What They says?

    ,

    Kompleks Uma Lengge yang berlokasi di desa Maria Utara Wawo Bima sudah sangat dikenal. Para wisatawan domestic maupun mancanegara sering berkunjung ke areal lebih kurang satu hektar tempat bangunan rumah tradisional Bima ini berdiri mengawal perubahan zaman. 

    Uma Lengge dan Jompa yang ada di lokasi ini mengundang perhatian setiap orang untuk mengunjunginya. Pada masa lalu, padi disimpan di Uma Lengge atau Uma Jompa untuk kebutuhan satu tahun.

    Penempatannya yang terpisah dengan rumah tinggal penduduk konon dimaksudkan untuk mencegah efek domino yang merugikan apabila terjadi bencana kebakaran. Dengan demikian, apabila rumah tempat tinggal penduduk terbakar, maka padi yang disimpan di dalam Uma Lengge atau Uma Jompa tidak akan ikut terbakar, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itulah, kompleks Uma Lengge di Desa Maria dibangun agak jauh dari pemukiman penduduk.

    Ada beberapa atraksi unik yang dapat anda saksikan di kompleks Uma Lengge. Atraksi ini telah menyatu dengan kompleks ini disamping upacara Adat Ampa Fare yang rutin dilaksanakan seusai panen.Berikut beberapa atraksi kesenian unik di kompleks Lengge Wawo yang biasa disuguhkan untuk para wisatawan.

    ,

    Museum asi Mbojo adalah bekas Istana Kerajaan / Kesultanan  Bima. Istana Bima dibangun pada tahun 1927 – 1930 dibangun oleh arsitektur dari Ambon yang bernama Mr. Obzicter Rehatta dengan perpaduan konstruksi Eropa dan Tradisional.

    Istana ini juga memiliki sebuah tiang bendera yang bermakna atau Monumental. Tiang bendera yang berbentuk tiang perahu yang sekaligus untuk memperingati pembubaran Angkatan Laut dari kerajaan Bima pada abad ke- 18 tahun 1789. 

    Istana Bima sekarang sudah lama menjadi Museum. Pada tanggal 10 Agustus 1989 dialih fungsikan menjadi Museum Asi Mbojo yang deresmikan oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat H. Warsito dan Bupati Bima H. Oemar Harun, BSc. Pada tanggal 14 Januari 1997 diadakan renovasi dan penataan benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan yang dersmikan oleh bapak bupati Bima Adi Haryanto. 

    Di Museum Asi  tersimpan koleksi benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan/Kesultanan Bima yang terbuat dari emas seperti  :  Mahkota Kerajaan ,Pakaian Adat serta barang – barang lain yang digunakan oleh Sultan/Raja  dalam kegiatan sehari-hari.  

    Di areal Museum  Asi Mbojo  ini pula terdapat sebuah sumur yang konon dulunya digunakan oleh Putri dari Khayangan sebagai tempat pemandian, sumur tersebut bernama  “Sumur Ompu Toi”. Pada tahun 2009 Museum Asi Mbojo menjadi Unit Pelaksana  Tekhnis Daerah (UPTD)  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bima.


    ,

    Secara historis orang bima atau dou mbojo dibagi dalam 2 (dua) kelompok masyarakat: Asli dan Masyarakat Pendatang. Masyarakat donggo atau dou mbojo adalah merupakan masyarakat yang paling lama mendiami Daerah Bima dibandingkan dengan suku lain mereka bermukim didaerah pemukiman di daratan tinggi yang jauh dari pesisir, memiliki bahasa adat istiadat yang berbeda dengan orang Bima atau Dou mbojo. Bahkan menurut hasil penelitian para ahli dou donggo memiliki kesamaan dengan masyrakat daerah bagian di lombok utara.

    Dou donggo mendiami lereng-lereng gunung Lambitu yang di sebut donggo ele sementara dou donggo yang mendiami lereng gunung soromandi disebut donggo ipa, mereka tinggal disuatu perkampungan dengan rumah adat disebut Lengge di kelilingi pegunugan dan pembukitan serta panorama alam yang indah dan menarik untuk di nikmati.

    Ciri khas masyarakat donggo atau Dou Donggo sering orang menilai bahwa masyarakat Donggo itu berwatak keras seperti batu karena logat bahasanya sangat keras dan unik seperti orang yang emosional dan warna kulit lelakinya agak lebih hitam, wanita bila keluar rumah membawa senjata tajam sekurang-kurangnya pisau.

    Falsafah hidup dou Donggo senang hidup dalam kondisi pegunungan dan daratan tinggi. Rumah dibangun sangat tinggi sekitar 6 sampai 7 meter dengan ukuran kecil sekitar 3×4 meter dengan maksud untuk menyimpan panas, mata pencahriannya dengan berladang dan beburu. Rasa kekeluargaan dan sukuisme serta sifat gotong royong sangat erat.

    Kondisi daerah donggo terdiri dari tanah, pegunungan yang berbatuan dan kerikil tajam, dibalik kebatuan tersimpan mata air yang suci dan jernih jauh dari polusi yang menumbuhkan jiwa masyarat donggo yang sebenarnya yaitu lugu polos dan suci walaupun berbatuan namun daerahnya sangat subur dan hasil melimpah dua.

    Adat dan Budaya
    Dibangun tempat tinggal sangat jauh beda dengan masyarakat lain, yaitu tinggi rumah sampai 7 meter dengan ukuran kecil sekitar 3×4 meter. Membangun rumah adat atau uma leme untuk ncuhi atau kepala suku dalam bentuk uma leme, berdindingkan atap seperti alang-alang dengan maksud menyimpan panas rumah ini terdiri dari empat tiang yang bersegi 8 (delapan) yang dibuta dari kayu sangga yaitu kayu yang bisa menolak bala dan bencana, rumah ini disebut juga rumah ncuhi atau uma ncuhi. Karena disinalah disimpan barang-barang sesembakan dan alat-alat kesenian.

    Ruang yang bersegi delapan itu menujukan bahwa pemimpin yang brhak menjadi ncuhi yaitu orang yang guru waru.

    Pakaian 
    • Kebesaran masyarakat donggo : hanya dapat dipakai pada upacara-upcara adat seperti: sasangi, kabusi rasa, ampa ncuhi, dapu, mpisi, kalero dan lain-lain. Bahkan dipakai di hadapan raja.
    •   Laki-laki (Masyarakat Biasa): Sangat beda dengan masyarakat lain laki-laki selembar baju hitam yang bergaris tegak lurus putih dengan berbentuk kimono yang berlubang pada lehernya dan lengan yang disebut kababu compo sendangkan bagian bawah disambung dengan rumbai-rumbai (jambo), rambut panjang diikat runcing dengan ro’o laju.
    •   Wanita (Masyarakat Biasa) : memakai ka’ba’bu adan tembe sangga dengan rambut di gulung (di sanggil) berbentuk bonggolan dan sisir yang dipake adalah dari tangan.
    Pemimpin Desa (‘Dari Ncuhi Memakai Surban Putih) :
    Warna pakaian has donggo adalah hitam berbelah biru juga ada beberapa bolangan merah dengan makna: warna hitam berarti keagungan, warna biru berarti kasisayang, warna merah berarti kejantanan, warna putih pada kimono berarti kesucian. Pakaian semacam ini adalah pakaian kebesaran atau keagungan.

    Kesenian :
    Kesenian yang disukai masyarakat donggo ipa mpisi dan kalero.
    - Mpisi adalah sentuhan kaki akibat haru dan kecewa.
    - Kalero adalah dendangan lagu ratapan.
    Mpisi semula berawal dari tanta mpisi disertai keyang. Kalero yaitu kada’da da kaporo akibat dari kematian itu. Sepulang dari penguburan mayat, dirumah duka terdengar isap tangis dan tanta mpisi serta kejang.
    Akhirnya kata-kata dan kalimat itu di jadikan landasan untuk mengenang arwah pada setiap 3 hari, 7 hari 10 hari, 44 hari da seterusya. Hari kematian itulah sebanya di masa tempo dulu bila di laksanakan doa rowa alam di tampilkan mpisi dan kalero yang di selingi dengan ntu’ba ncala yaitu permainan sakral pembelaan diri yang dimiliki, tertuanglah segala perasaan haru dan kecewa yang akhirnya berubah menjadi perasaan tenang dan damai dari ahli mayat.

    ,

    Orang Sambori, adalah komunitas masyarakat yang termasuk bagian dari suku Bima, yang berdiam di desa Sambori kabupaten Bima provinsi Nusa Tenggara Barat. Populasi orang Sambori diperkirakan sekitar 800 orang.

    Orang Sambori memiliki keunikan tersendiri baik dari sisi sejarah maupun budayanya. Salah satu dari keunikan itu adalah bahasa yang dituturkan berbeda dengan bahasa Bima. Dikatakan unik, bahwa orang Sambori sendiri disebut juga sebagai suku Bima, tetapi memiliki bahasa yang berbeda dengan bahasa Bima pada umumnya. Orang Sambori berbicara dalam bahasa Sambori, yang dikatakan merupakan dialek bahasa Bima, tapi bisa dikatakan dialek apabila terdapat persamaan 50% sampai 80%, tapi bahasa Sambori justru perbedaannya yang mencapai 80% dengan bahasa Bima. Jadi bisa dikatakan bahasa Sambori adalah bahasa yang berbeda dengan bahasa Bima.

    Bahasa Sambori menyebar di sejumlah kampung dan desa yang ada di gugusan pegunungan La Mbitu di tenggara Kota Bima seperti di desa Tarlawi, Kaboro, Teta, Kalodu, Sambori, Kadi dan Kuta. Desa-desa ini masuk dalam wilayah kecamatan pemekaran La Mbitu, kecuali desa Tarlawi yang masuk dalam wilayah kecamatan Wawo karena jaraknya sekitar 7 km dari Wawo serta desa Kalodu yang masuk wilayah kecamatan Langgudu.

    Masyarakat di desa-desa di atas dalam sejarah Bima dijuluki dengan Dou Donggo Ele. Sedangkan masyarakat dan desa yang berada di gugusan pegunungan Soromandi di sebelah barat teluk Bima disebut Dou Donggo Ipa. Masih perlu peneilitian lagi terkait dengan bahasa Dou Donggo Ipa ini. Apakah bahasa mereka juga sama dengan Bahasa Donggo Ele. Sebab dari penuturan masyarakat di sana, terdapat sedikit perbedaan antara bahasa Donggo Ele dan bahasa Donggo Ipa. Ada yang berpendapat bahasa Sambori adalah merupakan bahasa asli suku Bima, atau merupakan bahasa nenek moyang suku Bima, yang sekarang masih tersimpan dalam masyarakat Sambori.

    Orang Sambori dikelompokkan ke dalam bagian suku Bima, tetapi ada anggapan bahwa orang Sambori termasuk bagian dari suku Donggo. Tidak bisa dipastikan mana yang benar, karena belum ada penelitian lebih lanjut mengenai ini.
    Apabila dilihat dari kebiasaan, tata kehidupan, budaya dan bahasa, sepertinya orang Sambori bisa dikatakan sebagai etnis tersendiri, yang berbeda dengan etnis-etnis lain di Nusa Tenggara Barat ini. Tetapi sampai saat ini orang Sambori lebih suka menyebut diri mereka sebagai orang Bima.

    Pakaian adat masyarakat Sambori berbeda dengan pakaian adat suku Bima-Dompu pada umumnya. Masyarakat Sambori tampil berbeda, yang terlihat dalam pakaian sehari-hari. Laki-laki dewasa biasanya memakai Sambolo (ikat kapala) yang terbuat dari kain kapas tenunan dengan hiasan kotak-kotak berwarna hitam atau putih. Dipadu dengan baju Mbolo Wo’oatau, yaitu baju tanpa kerah yang terbuat dari kain katun dberwarna hitam atau putih.

    Orang Sambori memakai sarung yang disebut Tembe Me’e (sarung hitam) khas Sambori dipintal dan ditenun dari bahan kapas berwarna hitam. Dipakai dengan cara dililit pada bagian perut. Kemudian mereka memakai aksesoris Weri atau Bala (kain ikat pinggang) yang diselempangkan melingkar pada bagian perut sampai di atas paha, yang berrfungsi untuk menguatkan lilitan sarung.

    Sedangkan para perempuan dewasa, memakai baju Poro Me’e, yang terbuat dari kain katun dengan bentuk menyerupai baju Poro pada pakaian adat masyarakat Bima umumnya. Sarung memakai Tembe Me’e, dibuat agak panjang karena cara memakainya yaitu dengan cara dimasukkan secara lurus melalui kepala atau kaki. Kemudian dibiarkan lepas sampai ke betis, sekedar pelengkap mereka mengenakan Kababu,yang diselempangkan pada bahu. Untuk rambut ditata dengan membuat semacam ikatan yang dibentuk meninggi di atas kepala yang disebut Samu’u Tu’u.

    Masyarakat desa Sambori mayoritas memeluk agama Islam. Menurut mereka agama Islam masuk ke dalam masyarakat Sambori, dibawah oleh seorang ulama dari Ternate yang bernama “Syekh Subuh”. Karena ulama ini tiba di Sambori pada saat Subuh. Maka Syekh inipun dikenal dengan nama Syekh Subuh. Makam Syekh Subuh berada di atas puncak gunung Sambori, yang dianggap sebagai kuburan keramat.

    Masyarakat Sambori memiliki kebiasaan mengunyah daun sirih. Kebiasaan ini dikarenakan suhu dan udara di desa sambori sangat dingin, sehingga untuk melawan udara dingin, mereka mengunyah daun sirih yang dicampur dengan beberapa ramuan sehingga badan menjadi hangat.

    Masyarakat Sambori rata-rata bekerja sebagai petani. Sehari-hari mereka sudah mengenal bercocoktanam sejak zaman nenek moyang. Mereka memiliki ladang dan kebun yang ditanami berbagai jenis tanaman untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

    Sumber : protomalayans.blogspot.com

    ,

    Suku Bima merupakan suku yang mendiami Kabupaten Bima, Kota Bima, Kabupaten Dompu Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sukun ini telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Pemukiman orang Bima biasa disebut kampo atau Kampe yang dikepalai orang seorang pemimpin yang disebut dengan Ncuhi. Jumlah Ncuhi yang terdapat di Suku Bima adalah tujuh Ncuhi yang pemimpin di setiap daerah.

    Ncuhi dibantu oleh golongan kerabat yang tua dan dihormati. Kepemimpinan diwariskan turun temurun di antara keturunan nenek moyang pendiri desa. Setiap daerah menamakan dirinya sebagai bagian dari Bima, meski pada kenyataannya tidak ada pemimpin tunggal yang menguasai kepemerintahan tanah Bima.

    Berbagai versi menyebutkan asal mula kata Bima menjadi suku tersebut. Ada yang mengatakan, Bima berasal dari kata “Bismillaahirrohmaanirrohiim”. Hal ini karena mayoritas suku Bima beragama Islam. Menurut sebuah legenda, kata Bima berasal dari nama raja pertama suku tersebut, yakni Sang Bima.

    Legenda tersebut tertulis dalam Kibat Bo’. Ceritanya berawal dari kedatangan seorang pengembara dari Jawa yang bernama Bima tadi. Bima merupakan seorang Pandawa Lima yang melarikan diri ke Bima pada masa pemberontakan di Majapahit. Dia melarikan diri melalui jalur selatan agar tidak diketahui oleh para pemberontak, lalu berlabuh di Pulau Satonda.

    Bima menikah dengan salah seorang putri di wilayah tersebut, dan memiliki anak. Bima memiliki karakter yang kasar dan keras, tapi teguh dalam pendirian serta tidak mudah mencurigai orang lain. Lalu, para Ncuhi mengangkat Bima menjadi Raja pertama wilayah tersebut yang kemudian menjadi daerah yang bernama Bima. Sang Bima dianggap sebagai raja Nima pertamanya.

    Hanya saja, Sang Bima meminta kepada para Ncuhi supaya anaknya yang diangkat sebagai raja. Sementara dia sendiri kembali lagi ke Jawa dan menyuruh dua anaknya untuk memerintah di Kerajaan Bima. Oleh karena itu, sebagian bahasa Jawa Kuno kadang-kadang masih digunakan sebagai bahasa halus di Bima.

    Nama Bima sendiri sebenarnya adalah sebutan dalam bahasa Indonesia, semnetara orang Bima sendiri menyebutnya Mbojo. Saat menggunakan bahasa Indonesia untuk merujuk “Bima”, yang digunakan tetap harus mengucapkan kata “Bima”. Tetapi bila menggunakan bahasa daerah Bima untuk merujuk”Bima”, kata yang digunakan secara tepat adalah “Mbojo”. Mbojo ini merupakan salah satu suku Bima karena dalam suku Bima sendiri ada dua suku, yakni suku Donggo dan suku Mbojo. Suku Donggo atau orang Donggo dianggap sebagai orang pertama yang telah mendiami wilayah Bima.

    Saat ini, mayoritas suku Bima menganut agama Islam yang kini mencapai 95% lebih, di samping sebagian kecil juga menganut agama Kristen dan Hindu. Tetapi, ada satu kepercayaan yang masih dianut oleh suku Bima yang disebut dengan Pare No Bongi, yaitu kepercayaan terhadap roh nenek moyang. Pare No Bongi merupakan kepercayaan asli orang Bima. Dunia roh yang ditakuti adalah Batara Gangga sebagai dewa yang memiliki kekuatan yang sangat besar sebagai penguasa.

    Kemudian ada lagi Batara Guru, Idadari sakti dan Jeneng, roh Bake dan roh Jim yang tinggal di pohon, gunung yang sangat besar dan berkuasa untuk mendatangkan penyakit, bencana, dan lainnya. Mereka juga percaya adanya sebatang pohon besar di Kalate yang dianggap sakti, Murmas tempat para dewa Gunung Rinjani; tempat tinggal para Batara dan dewi-dewi.

    Dalam seni tradisional khas Bima, mereka memiliki tarian khas buja kadanda yang saat ini hampir punah. Namun kini telah mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah. Selain itu juga ada tari perang khas suku bima. Ada lagi tarian kalero yang berasal dari daerah Donggo lama. Kalero adalah tarian dan nyanyian yang berisi ratapan, pujian, pengharapan dan penghormatan terhadap arwah. Perlombaan balap kuda juga merupakan wujud kesenian lainya dari suku bima.

    Adapun bahasa yang digunakan suku Bima adalah Bahasa Bima atau Nggahi Mbojo. Bahasa ini terdiri atas berbagai dialek, yaitu dialek Bima, Bima Dongo dan Sangiang. Bahasa yang mereka pakai ini termasuk rumpun Bahasa Melayu Polinesia. Dalam dialek bahasanya, mereka sering menggunakan huruf hidup dalam akhiran katanya, jarang menggunakan huruf hidup. Misalnya kata “jangang” diucapkan menjadi “janga”.

    Mata pencaharian utamanya masyarakat suku Bima adalah bertani dan sempat menjadi segitiga emas pertanian bersama Makassar dan Ternate pada zaman Kesultanan. Oleh karena itu, hubungan Bima dan Makassar sangatlah dekat, karena pada zaman Kesultanan, kedua kerajaan ini saling menikahkan putra dan putri kerajaannya masing.

    Mereka juga berladang, berburu dan berternak kuda yang berukuran kecil tapi kuat. Orang menyebut kuda tersebut dengan Kuda Liar. Sejak abad ke-14 kuda Bima telah diekspor ke Pulau Jawa. Tahun 1920 daerah Bima telah menjadi tempat pengembangbiakkan kuda yang penting. Mereka memiliki sistem irigasi yang disebut Ponggawa. Para wanita Bima membuat kerajinan anyaman dari rotan dan daun lontar, juga kain tenunan "tembe nggoli" yang terkenal.

    Sumber: kebudayaanindonesia.net

⬆
Top