• Latest Stories

      What is new?

    • Comments

      What They says?

    Di Pulau Sumba dikenal dengan kuda Sandel Wood, maka di Bima dikenal dengan kuda anjing atau jara poro. Disebut kuda anjing karena kudanya kecil-kecil (kurang lebih tingginya 1 m).

    Pacuan kuda sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Bima. Berlangsung empat sampai lima kali setahun, acara pacuan kuda dilaksanakan di arena pacuan Desa Panda yang berjarak 6 km dari ibukota Kabupaten Bima. Musim pacuan biasa diselenggarakan pada setiap bulan April, Mei, Juli, Oktober dan Desember. Event ini disaksikan oleh ribuan penonton yang datang dari berbagai pelosok.

    Kuda yang mengikuti lomba adalah kuda-kuda dari Bima dengan joki anak-anak berusia 6 – 8 tahun, tanpa mengenakan pelana. Kadang-kadang juga diundang kuda-kuda dari Sumbawa, Lombok, dan kuda NTT untuk ikut berlomba. Untuk menyaksikan lomba ini cukup membayar karcis masuk dan telah tersedia tempat duduk baik umum maupun VIP. [Sumber: Kenali dan Cintai Bima]

    Istana Kesultanan Bima terletak di jantung Kota Bima. Sekarang telah difungsikan sebagai museum yang diberi nama “Asi Mbojo”.

    Istana Kesultanan Bima sekarang dibangun di atas tanah dalam areal “asi tua” (Istana Sultan Ibrahim) pada tahun 1927 oleh Sultan Muhammad Salahuddin, Sultan Bima ke-14 yang memerintah tahun 1915-1951, menggantikan ayahnya, Sultan Ibrahim (memerintah tahun 1881-1915). Bangunan perpaduan konstruksi Eropa dan tradisional Bima tersebut, dirancang oleh arsitektur Ambon bernama Mr. Obzichter Pehatta.

    Di dalam istana ini masih tersimpan benda-benda peninggalan raja dan sultan tempo dulu, seperti mahkota yang terbuat dari emas dan intan berlian, keris jabatan raja/sultan dan beberapa keris jabatan para pembesar kerajaan serta perabot rumah tangga lainnya.

    Di bagian depan istana terdapat tiang bendera berbentuk perahu dan pintu gerbang lare-lare. Bagian timur terdapat istana baru atau asibou, bagunan berciri khas Bima tersebut terbuat dari kayu jati Desa Tololai. Oleh karenanya masyarakat Bima menyebutnya dengan “Jati Tololai”.

    Di halaman istana sering dipergunakan untuk acara upacara adat Hanta U’a Pua dan Festival Kesenian Daerah.

    Di sekitar bagunan istana sultan juga terdapat :
    • Rumah kediaman sultan dan keluarganya yang saat ini berfungsi sebagai pendopo Bupati Bima.
    • Lapangan Sera Suba atau lapangan tempat berlatihnya prajurit sultan.
    • Masjid kesultanan Bima yang diberi nama Masjid Sultan Muhammad Salahuddin, di halamannya terdapat makam beberapa keluarga dan Sultan/Raja Bima.
    • Di sebelah utara dan barat juga terdapat hotel melati, restoran, pos kepolisian serta pusat perbelanjaan.
    Untuk mengunjungi istana cukup membayar tarif masuk sebesar Rp. 5000,- per orang. [Sumber: Kenali dan Cintai Bima]

    Makam ini terletak satu kilometer di sebelah selatan Istana Kesultanan Bima. Tepatnya di atas Bukit Dana Taraha. Terdapat makam Sultan Bima pertama yang merupakan penerima ajaran Islam pertama di Bima yakni Sultan Abdul Kahir atau raja terakhir dari Kerajaan Bima.

    Disamping itu terdapat makam Putra H. Abdul Kahir Jena Teke/Raja Muda Kesultanan Bima sekaligus bupati pertama daerah kabupaten Bima setelah berakhirnya pemerintahan berdasarkan kesultanan ke sistem pemerintahan swapraja. Beberapa makam lainnya adalah makam kerabat kesultanan dan makam para pembesar agama Islam pada zamannya.

    Tempat ini banyak dikunjungi oleh peziarah baik pada pagi, siang atau pun sore hari. Dari atas Bukit Dana Taraha, Anda juga dapat menikmati panorama sekitar Kota Bima dan Teluk Bima. [Sumber: Kenali dan Cintai Bima]

    Bagi Anda yang memiliki hobi tracking, mendaki Gunung Tambara bukan sekedar pendakian biasa. Tetapi perjalanan menelusuri titian sejarah. Letusan maha dahsyat pernah terjadi pada tahun 1815 silam. 

    Menapaki sejarah tiga kerajaan yang terluluhlantahkan, yakni Kerajaan Sanggar, Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat. Meniti jejak-jejak letusan yang menewaskan 92.000 jiwa. 
     
    Karena kedahsyatan letusannya Tambora pun tercatat dalam sejarah dunia. Kehebatan letusannya menembus batas-batas akal pikiran manusia, tercatat sekitar enam juta kali kekuatan bom atom. Dari letusan inilah yang membentuk kawah dengan lebar sekitar 9 km, dan kedalaman 1.110 meter. Menyebarkan sekitar 150 km3 debu, hingga mencapai kejauhan 1.300 km.

    Bila Anda berada di puncaknya, sejauh mata memAndang, Anda akan berdecak kagum. Bayangkan saat letusan itu terjadi, Jawa Tengah dan Kalimantan diselimuti debu hitam, meski dalam jarak sekitar 900 km dari pusat letusan, berjatuhan debu setebal 1 cm. Bongkahan letusannya melayang hingga mencapai ketinggian 44 km. Iklim dunia waktu itu berubah drastis. Menyebabkan tahun tanpa musim panas, suhu minimum setiap hari secara tidak wajar minjadi rendah di belahan bumi utara dari akhir musim semi hingga awal musim gugur. Kelaparan meluas karena gagal panen. Itulah sekelumit cerita dahsyatnya letusan Gunung Tambora yang melegenda sampai kapan pun.

    Mendaki Tambora sebaiknya melewati Desa Kawinda To’i yang berada di Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, jarak tempuh lebih dekat. Sepanjang perjalanan Anda akan menjumpai masyarakat pencari madu alam. Menikmati Tambora seakan mengingatkan Anda pada padang rumput Afrika, atau menelusuri sepanjang pesisir Pantai Kerobih berupa batu karang yang bentuknya sangat indah dengan relief alami. Di bagian selatan, Anda akan disuguhi perbukitan dengan latar belakang pemandangan yang begitu memikat, sehingga sejauh mata memandang terlihat seolah hamparan permadani.

    Tambora dapat dijangkau dengan menggunakan pesawat udara dari Mataram, sekitar 1 jam menuju Bandar Udara Sultan Muhammad Salahudin Bima. Dari Bima dapat ditempuh melalui darat menuju Tambora berjarak 100 km melewati kecamatan sanggar dengan jarak tempuh perjalanan sekitar 3 jam. Sebagai alternatif Anda bisa menghubungi Saudara Yacub Wahab (Mobile: 081 237 004 171) atau Saudara Nurdin Tayeb (Mobile: 081 353 629 353). [Sumber: Kenali dan Cintai Bima]

    ,

    Makam Tolobali terletak satu kilometer ke arah utara Kota Bima, tepatnya di wilayah Tolobali. Terdapat makam beberapa Sultan Bima dan tokoh agama, antara lain :
    • Makam Sultan Abdul Kahir Sirajudin (Ruma Mantau Uma Jati) Sultan Bima II, dilahirkan pada bulan Ramadhan 1038 H (April 1627 M) yang menikah dengan adik dari isteri Sultan Makasar bernama Daeng Sikantu.
    • Makam Sultan Nurudin Abubakar Alisya (Ruma Mawa’a Paju) Sultan Bima III, lahir tanggal 5 Desember 1651 yang beristrikan Daeng Tamemang, saudara Karang Langkese, anaknya Raja Tallo. Deberi gelar Ruma Ma Wa’a Paju karena beliau memadukan payung jabatan raja berwarna kuning yang dikenal dengan Paju Monca.
    • Makam Sultan Jamaluddin (Ruma Ma Wa’a Rowo). Sultan Bima IV, lahir pada tanggal 8 Agustus 1673 M. Diberi gelar Ruma Ma Wa’a Romo karena beliau pAndai becara, tegas dan lantang.
    • Syekh Umar Albantani, ulama besar asal Banten sebagai guru dan penyiar agama Islam di Wilayah Kesultanan Bima.
    Untuk menuju Makam Tolobali, dapat dijangkau dengan jalan kaki atau menggunakan Benhur (kereta kuda khas Bima). [Sumber: Kenali dan Cintai Bima]

    ,

    Eksotisme Taman Laut di Ujung Timur Sumbawa 
    Tak berlebihan bila para penyelam yang pernah berkunjung ke Gili Banta berkata “Gili Banta is paradise of diver” – surganya para penyelam. Gili Banta menjanjikan eksotisme taman laut yang belum pernah Anda jumpai di mana pun.

    Katakan “I wil be there”, Anda akan menikmati pasir putih dan terumbu karang yang indah. Alam menyambutmu dengan ucapan “welcome to the last paradise”. Nikmati dan rasakan keindahan berbagai biota laut, maha karya Sang Pencipta.

    Bagi Anda yang hobi mancing, atau sekedar ingin berenang sambil bersnorkeling dan menikmati keindahan pantai, Gili Banta tentunya tempat yang tepat. Jadikan Gili Banta sebagai momen terindah bersama keluarga.

    Menuju Gili Banta sangatlah mudah dan murah. Jika Anda berada di Kota Bima, cukup dengan menggunakan bus dari Terminal Kumbe menuju terminal Paji di Kecamatan Sape dengan waktu tempuuh 1,5 jam. Sepanjang perjalanan Anda akan menikmati sensasi berkendaraan di jalan yang berliku-liku dengan pemandangan sisi kanan dan kiri penuh tebing terjal dan curam. Tidak perlu khawatir karena sopir bus sudah sangat terbiasa dengan kondisi jalan seperti ini.

    Sesampainya di terminal Paji, perjalanan Anda akan diteruskan menuju pelabuhan Laut Sape dengan jarak tempuh kurng lebih 10 menit. Anda bisa menggunakan transportasi ojek atau benhur (Kendaraan tradisional menggunakan kuda) yang akan mengantarkan Anda ke Gili Banta. Yakinlah bahwa Gili Banta akan menawarkan perjalanan wisata yang sangat menyenangkan dan memberikan kesan mendalam dalam hidup Anda, karena Gili Banta is paradise of diver. [Sumber: Kenali dan Cintai Bima]

    Misteri Alam Dalam Keindahan Yang Memukau

    Pulau tua dengan luas 4,8 kilometer persegi, di dalamnya terdapat sebuah danau seluas 0,8 kilometer persegi. Keindahan alamnya menyimpan misteri, mengajak kita untuk selalu bercengkrama dengan nuansanya yang indah.

    Aroma laut langsung mengucapkan selamat datang – sentuh dengan tangan dan rasakanlah. Air danau yang asin segera menyambut. Anda juga akan menyaksikan dasar danau berkarang. Sebuah keajaiban dunia yang tak mungkin kita lewatkan begitu saja. Misteri alam yang terjadi sejak 2000 tahun sebelum masehi. Ketika air laut diluar danau mengalami pasang surut, danau pun mengalami pasang surut. Satonda, begitulah orang-orang mengenalnya.

    Injakan kakimu di pesisir pantai, pandangilah bibir pantainya yang mungil, maka senyum biota laut akan menyambutmu bersama karang-karang tua yang kokoh dan ikan-ikan hias yang indah, penyu hijau yang lucu, tak akan mampu menahan keinginan untuk bersnorkling- atau sekedar menikmati hawa danau yang sejuk.

    Di ujung sana terlihat bangau putih menari, itik-itik liar sedang bercengkrama, menyelam dan berenang, seolah menikmati beningnya air laut.

    Tanaman-tanaman liar, akan menemani sepanjang perjalanan mengitari danau. Di sana terdapat pohon Kalibuda yang getahnya beracun, dipercaya sebagai pohon keramat. Pada ranting-rantingnya bergantungan “batu cita-cita”, yaitu batu yang diikat tali digantungkan pada rantingnya dan dipercayai sebagai tempat menyalurkan keinginan. Di sebelahnya terdapat makam keramat seseorang yang dipercayai mengalami moksa (raganya menghilang).

    Bagi Anda yang mengagumi alam dapat menyaksikan indahnya bias-bias cahaya matahari tenggelam. Bagi yang menyukai panjat tebing, di sana terdapat tebing terjal, bukit berhutan dan semak belukar yang ditumbuhi bermacam tumbuhan. Ilmuwan atau mahasiswa, bisa berwisata sekaligus melakukan penelitian tentang terbentuknya sedimen, mikrobiologi, biokarbonat, jenis lumut dan karang serta perubahan zat kimia. Suasana terasa lebih lengkap oleh suara burung dan monyet.

    Untuk mencapai Pulau Satonda sangatlah mudah. Banyak pilihan sesuai dengan isi kantong Anda. Tersedia transportasi umum dengan bus yang menuju Desa Labuhan Kananga Kecamatan Tambora dari Terminal Dara Kota Bima, waktu tempuh 3 – 4 jam. Bila ingin menikmati suasana perjalanan bersama keluarga, Anda bisa memanfaatkan jasa rent car dengan harga yang cukup terjangkau, berkisar antara Rp 350.000,- hingga Rp 400.000,- per hari.

    Sesampainya di Labuhan Kananga Anda akan disambut oleh masyarakat yang akan mengantarkan Anda. Di sana Anda akan disambut dengan tari tradisional. Rumah masyarakat di Desa Labuan Kananga bisa menjadi pilihan sebagai tempat bermalam. Perjalanan dari daratan menuju Pulau Satonda dengan menggunakan speed boat membutuhkan waktu 10 menit. Bila Anda tertarik, bisa menghubungi saudara Jufri, Ketua MAPATA (Masyarakat Pecinta Alam Tambora), mobile: 081 339 789 369. Have a nice trip. [Sumber: Kenali dan Cintai Bima]


Top